Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel
Pengarang: 
Lutriani, S.Sos.,MSi

Untuk mengembangkan layanan perpustakaan yang berkualitas dan prima, maka dituntut adanya sikap profesional dari petugas perpustakaan atau pustakawan. Tanpa sikap profesional dari pustakawan dan petugas perpustakaan lainnya, maka bagaimanapun modern, lengkap dan canggihnya perpustakaan tersebut maka akan kurang berarti dan akan dipandang sebelah mata oleh para pemustaka. Sehingga perlu dikembangkan dengan baik upaya-upaya peningkatan profesionalitas pustakawan dalam rangka peningkatan layanan perpustakaan. Ilmu psikologi sangat penting bagi pustakawan, sebab melalui pengetahuan tentang psikologi ini pustakawan dapat meningkatkan profesionalismenya, sehingga dengan keprofesian yang mereka miliki, maka akan memberikan pengaruh positif terhadap kinerja layanan di perpustakaan. Dan dengan kinerja perpustakaan yang bagus maka pemustaka akan merasa puas. Pendekatan psikologis dalam peningkatan mutu pelayanan perpustakaan sangat penting untuk diterapkan sehingga perpustakaan akan banyak dikunjungi dan dimanfaatkan oleh para pemustaka.

A. Pendahuluan
Dilihat dari asal muasal perkembangan sejarah psikologi, secara garis besar, para psikolog membagi sejarah perkembangan psikologi ke dalam dua bagian utama, yaitu tahap psikologi sebelum menjadi ilmu yang berdiri sendiri, dan tahap sesudah psikologi berdiri sendiri sebagai ilmu. Batasan dari kedua tahap tersebut adalah ditandai dengan berdirinya laboratorium psikologi yang pertama kali di Leipzig Jerman pada tahun 1879.
Perkembangan psikologi sudah lama dikenal dari sejak jaman dahulu. Di zaman Yunani Kuno para ahli falsafat mencoba mempelajari jiwa, seperti Plato (427 – 347 SM) menyebut jiwa sebagai ide, Aristoteles (383 – 322 SM) menyebut jiwa sebagai fungsi mengingat. Pada abad 17 filsuf Perancis Rene Descartes berpendapat bahwa jiwa adalah akal atau kesadaran, sedangkan John Locke (dari Inggris) beranggapan bahwa jiwa adalah kumpulan ide yang disatukan melalui asosiasi. Sedangkan ilmuwan lain pada abad 18 mengaitkan jiwa dengan ilmu pengetahuan (faal), mereka berpendapat dengan jiwa yang dikaitkan dengan proses sensoris/motoris, yaitu pemrosesan rangsangan yang diterima oleh syaraf-syaraf indera (sensoris) di otak sampai terjadinya reaksi berupa gerak otot-otot (motorik).
Menurut asal katanya, psikologi berasal dari kata Yunani ‘psyche’ yang berarti jiwa dan ‘logos’ yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa. Namun pengertian jiwa tidak pernah ada kesepakatan dari sejak dahulu. Di antara pendapat para ahli, jiwa bisa berarti ide, karakter atau fungsi mengingat, persepsi akal atau kesadaran. Psikologi adalah ilmu yang sedang berkembang dan pada hakikatnya psikologi dapat diterapkan pada setiap bidang dan segi kehidupan. Oleh karena itu cabang cabang psikologi bertambah dengan pesat, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan aktivitas kehidupan. Cabang cabang psikologi dapat digolongkan berdasarkan kekhususan bidang studinya, baik ilmu dasar (teoritis), maupun yang bersifat terapan (praktis). Penerapan psikologi berkembang ke berbagai aspek kehidupan manusia, demikian juga titik singgung dengan ilmu ilmu lain juga semakin banyak, misalnya dengan ilmu manajemen, ilmu ekonomi, ilmu perpustakaan, ilmu sosial dan sebagainya
Menurut Ahmadi, (1992: 33) dalam Suwarno (2009: 24), ada 3 (tiga) konsep aliran psikologi tentang manusia, yaitu 1. Psikologi Behaviorisme (USA, 1913, John Broadus B. Watson tahun 1878 – 1958), menyebutkan bahwa psikologi ini hanya mempelajari tingkah laku yang nyata, yang terbuka, yang dapat diukur secara obyektif, dan mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan pada kenyataan, sedangkan pengalaman-pengalaman bathin diabaikan, jadi agama dikesampingkan, mereka membuat eksperimen dengan sampelnya adalah binatang karena menyamakan manusia dengan hewan yang berevolusi seperti yang dikemukakan oleh teori evolusi Darwin dan didukung oleh Freud dan Skinner dengan teorinya Stimulus - Respon , 2. Psikologi Psikoanalisis (Jerman, 1896, Sigmun Freud, tahun 1856 – 1939), menyebutkan pengetahuan psikologi yang menekankan pada dinamika, kontinuitas yang teratur dan terus menerus secara konsisten dan berkesinambungan, factor-faktor psikis yang menentukan perilaku manusia serta pentingnya pengalaman masa kanak-kanak dalam membentuk kepribadian/karakter pada masa dewasa, merupakan teknik yang khusus meneliti aktivitas ketidaksadan/bawah sadar, dan merupakan metode interpretasi dan penyembuhan gangguan mental contohnya yaitu hipnotis, analisis mimpi, dan mekanisme pertahanan diri. Menurut Freud dalam (Goble, 1994: 20), seluruh kepribadian manusia tedriri dari tiga sistem, yaitu a. Id yang terletak dalam alam ketidaksadaran (unconsciousness) dan berisi nafsu-nafsu, insting, dan sebagainya yang tidak disadari dan menuntut pemuasan, dan berprinsip pada kesenangan (pleasureprinciple) dimana dalam hal ini adalah dorongan seks yang terpenting), b. Ego, yaitu pelaksanaan kepribadian yang bertugas melaksanakan dorongan-dorongan dari Id, dan harus benar-benar menjaga bahwa pelaksanaan dorongan-dorongan primitive tersebut tidak bertentangan dengan kenyataan (reality principle), ego yang dikuasai Id akan menjadikan seseorang terkena psikopat, yaitu tidak memperhatikan norma-norma dalam segala tindakannya, dan berbuat sekehendak hatinya, dan c. super ego, adalah wewenang moral dari kepribadian dan mencerminkan yang ideal dan bukan bukan real, dan memperjuangkan kesempurnaan, bukan kenikmatan. Disini dapat dilihat bahwa Freud secara tegas menolak fenomena agama pada diri manusia karena dia menganggap bahwa agama hanya suatu ilusi yang menyesatkan, dan 3. Psikologi Humanistik (awal tahun 1960-an, Maslow), yang timbul sebagai reaksi terhadap kedua konsep aliran di atas yang dianggap telah mereduksi hakekat dan sifat-sifat manusia dalam taraf non manusiawi, serta menganggap bahwa unsur lingkungan adalah penentu tunggal perilaku manusia. Konsepsi tunggal psikologi humanistik mengenai manusia adalah berakar dari aliran filsafat modern, yakni eksistensialisme yang merupakan filsafat yang mempermasalahkan manusia sebagai individu dan sebagai problema yang unik dengan keberadannya dan menyadari keberadannya dengan sepenuhnya. Tidaklah mudah untuk memahami pengertian tentang manusia. Dari aspek biologis, manusia adalah makhluk mamalia yang tergolong dalam kelompok primata. Namun ternyata bahwa manusia bukan sekedar salah satu jenis hewan tertentu, melainkan mempunyai ciri-ciri khas manusia yang tidak dimiliki oleh hewan. Oleh karena itu kita akan salah kalau meninjau definisi manusia hanya dari aspek biologis saja. Hal ini mengharuskan pada kita untuk memahami manusia dari aspek agama. Salah satu pengertian manusia dari aspek agama, menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang terpilih dan dilengkapi dengan akal dan kekuatan untuk membuat pilihan. Karena manusia memiliki kekuatan akal dan kekuatan untuk bisa menentukan pilihan, maka ia ditunjuk untuk patuh kepada kehendak dan hukum Allah. Dengan akal yang merupakan hidayah Allah, manusia dapat memilih apakah ia akan terbuai dalam lumpur endapan yang terdapat dalam dirinya ataukah ia akan meningkatkan dirinya menuju ke kutub mulia yakni menyerahkan diri kepada Allah. Dalam menentukan kehendak itu, terjadilah pertarungan terus-menerus dalam diri manusia.
Untuk dapat memahami kepribadian tidak mudah karena kepribadian merupakan masalah yang kompleks. Kepribadian itu sendiri bukan hanya melekat pada diri seseorang, tetapi lebih merupakan hasil suatu pertumbuhan yang lama dalam suatu lingkungan budaya. Para ahli menyebutkan bahwa kepribadian adalah kesan yang ditimbulkan oleh sifat-sifat lahiriah seseorang, seperti cara berpakaian, sifat jasmaniah, daya pikat dan sebagainya. Disebutkan juga bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai makhluk yang bersifat psikofisik yang menentukan penyesuaian dirinya secara unik terhadap lingkungan. Ahli lain mengklasifikasikan seluruh ranah kepribadian dalam enam tipe yang sangat menonjol, yaitu tipe realistik, tipe penyelidik atau investigatif, tipe artistik, tipe sosial, tipe perintis atau enterpristing dan tipe konvensional. Kepribadian seseorang akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengalaman pribadi masing-masing. Faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian antara lain: perasaan bersalah, benci, cemas, kepercayaan yang diemban, harapan yang dicamkan dan kasih sayang yang diterima dari lingkungan. Dengan kita mencoba mengenal dan kemudian memahami istilah kepribadian, maka kemudian diharapkan akan mempermudah mengenal diri sendiri, baik kekuatan atau kelemahan yang ada. Dengan kita sudah mengenal diri sendiri akan sangat bermanfaat bagi diri pribadi dan lingkungan, terutama memperlancar tugas profesional kita.ini sesuai dengan teori Psikologi humanistik yang menyebutkan bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki otoritas atas kehidupan dirinya sendiri, manusia adalah makhluk yang sadar, mandiri, pelaku aktif yang dapat menentukan (hampir) segalanya untuk dirinya sendiri.

B. Psikologi Perpustakaan: Sangat Penting!!
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hubungan antar manusia, secara singkat bisa diartikan sebagai ilmu tentang tingkah laku manusia. Namun pada hakikatnya psikologi bisa diterapkan pada setiap bidang dan segi kehidupan. Psikologi selain sebagai ilmu, juga merupakan seni karena penerapannya di berbagai kehidupan manusia membutuhkan ketrampilan dan kreativitas Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan aktivitas kehidupan, maka cabang ilmu psikologi bertambah pesat. Cabang ilmu psikologi dapat digolongkan berdasarkan kekhususan bidang studinya, baik ilmu dasar (teoritis), maupun yang bersifat terapan (praktis). Dalam penerapannya psikologi berkembang ke berbagai aspek kehidupan manusia, demikian juga titik singgung dengan ilmu lain juga semakin banyak, misalnya dengan ilmu managemen, ilmu ekonomi, ilmu sosial dan ilmu perpustakaan. Karena itu, ilmu psikologi sangat penting bagi pustakawan, sebab melalui pengetahuan tentang psikologi ini pustakawan dapat meningkatkan profesionalismenya, sehingga dengan keprofesian yang mereka miliki, maka akan memberikan pengaruh positif terhadap kinerja layanan di perpustakaan. Dan dengan kinerja perpustakaan yang bagus maka pemustaka akan merasa puas. Sementara Endar Sugiyarto (1999:6) mendefinisikan Psikologi pelayanan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam proses interaksi kerja di industri jasa pelayanan yaitu antara pelanggan/klien dengan para petugas/pegawai. Kalau hal tersebut diterapkan pada institusi perpustakaan maka interaksi tersebut terjadi antara pustakawan/pengelola dengan para pengguna jasa perpustakaan atau para pemustaka
Dalam konteks teori costumer behavior, kepuasan lebih banyak didefinisikan dari perspektif pendalaman konsumen setelah mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk atau jasa. Dengan demikian kepuasan dapat diartikan sebagai hasil dari penilaian (persepsi) konsumen bahwa produk atau pelayanan telah memberikan tingkat kenikmatan di mana tingkat pemenuhan ini bisa maksimal atau minimal. Tingkat kenikmatan yang dimaksud adalah kesesuaian antara apa yang dirasakan konsumen dari pengalaman yang diperoleh dengan apa yang diharapkan. Dari pengertian tersebut yang paling penting adalah persepsi, bukan kondisi aktual. Dengan demikian, bisa terjadi bahwa secara aktual, suatu produk atau jasa mempunyai potensi untuk memenuhi harapan pelanggan tetapi ternyata hasil dari persepsi pelanggan tidak sama dengan apa yang diinginkan oleh produsen. Ini bisa terjadi karena adanya gap atau perbedaan antara apa yang dipersepsikan oleh produsen (perusahaan) dengan apa yang dipesepsikan oleh pelanggan (Palilati, 2004 dalam Sungadi: 2008)
Seorang pelanggan yang puas adalah pelanggan yang merasa mendapatkan value dari produsen/penyedia jasa (Palilati:2004). Value ini bisa berasal dari produk, pelayanan, sistem atau sesuatu yang bersifat emosi. Jika dikatakan bahwa value adalah produk yang berkualitas, maka kepuasan terjadi kalau pelanggan mendapatkan produk yang berkualitas. Kalau value bagi pelanggan adalah kenyamanan maka kepuasan akan datang apabila pelayanan yang diperoleh benar-benar nyaman. Dan jika value dari pelanggan adalah harga yang murah maka pelanggan akan puas jika produsen memberikan harga yang paling kompetitif. Dari sini tampak jelas bahwa produsen selaku pihak penyedia produk atau jasa, dituntut untuk mampu memahami selera konsumen, atau apa yang diinginkan konsumen, sebagai contoh: penyajian produk atau jasa dengan harga yang kompetitif, informasi yang mudah untuk dipahami, pelayanan yang cepat, efisien, setiap keluhan yang disampaikan dapat didengarkan dan ditindaklanjuti, diterima dan diperlakukan tanpa pandang bulu dsb. Dengan memperhatikan selera konsumen maka produk jasa yang disajikan produsen benar-benar sesuai atau paling tidak mendekati selera atau kebutuhan konsumen. Dengan kata lain produsen dapat memberikan pelayanan yang prima bagi konsumennya dan konsumen merasa puas dengan layanan yang diberikan.
Yang dimaksud dengan kepuasan konsumen adalah persepsi konsumen bahwa harapannya telah terpenuhi atau terlampaui. Atau menurut (Agus Sulistiyono: 2001:3), kepuasan adalah suatu keadaan dalam diri seseorang, dimana ia telah berhasil mendapatkan sesuatu yang menjadi kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginannya. Sedangkan keinginan dapat diartikan sebagai suatu kondisi seseorang yang merasakan kekurangan terhadap sesuatu yang lazim bagi dirinya. Berdasarkan pada penjelasan diatas, maka kunci untuk memberikan kepuasan pada konsumen adalah berusaha mengetahui terlebih dahulu apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh para konsumen/ pelanggan. Dengan demikian, kebutuhan dasar konsumen dapat diidentifikasikan sebagai: Kebutuhan untuk disambut baik Kebutuhan pelayanan tepat waktu, Kebutuhan rasa nyaman dan dihargai, Kebutuhan pelayanan yang rapi, Kebutuhan untuk dimengerti, Kebutuhan untuk mendapatkan pertolongan, Kebutuhan untuk merasa penting.
Untuk mendapatkan gambaran tentang pemenuhan kebutuhan-kebutuhan konsumen seperti tertera diatas, sebagai tolok ukur pelayanan yang baik akan dinilai oleh konsumen itu sendiri.Pelayanan adalah sesuatu yang kompleks, menurut Agus Sulistiyono yang disarikan dari James A.F dan Mona J.F (2001:35) bahwa pengunjung akan menilai kualitas pelayanan melalui lima prinsip dimensi pelayanan, dan sebagai tolak ukurnya, yaitu:
1. Reliabilitas adalah kemampuan untuk memberikan secara tepat dan benar jenis pelayanan yang telah dijanjikan kepada pelanggan/ pemustaka
2. Responsif adalah keinginan yang cepat bertindak dalam membantu pelanggan/ pemustaka dengan pelayanan yang tepat waktu
3. Kepastian, disini adalah kompetensi untuk memberikan pelayanan sopan dan memiliki sifat respek terhadap pelanggan/ pemustaka
4. Empati, adalah memberikan perhatian yang baik kepada pelanggan/pemustaka secara khusus.
5. Nyata, adalah sesuatu yang tampak, misal penampilan para penyedia jasa/pustakawan dan fasilitas-fasilitas yang akan didapatkan oleh pelanggan/ pemustaka.
Penerapannya di perpustakaan, bahwa kualitas pelayanan untuk pemustaka datang dari berbagai sumber, seperti dari mulut ke mulut (getok tular, Jawa) berdasarkan pelanggan/ pemustaka yang pernah datang keperpustakaan. Informasi yang sampai secara getok tular tersebut menimbulkan harapan-harapan bagi pemustaka tentang bagaimana kualitas pelayanan yang mereka inginkan, kemudian proses pelayanan akan dinilai oleh pemustaka berdasarkan dimensi kualitas pelayanan. Pemustaka menggunakan kelima dimensi tersebut sebagai tolok ukur untuk memberikan penilaian terhadap kualitas pelayanan, yaitu yang didasarkan atas perbandingan antara pelayanan yang diharapkan dan kenyataan yang diperoleh, apakah hasilnya akan sangat memuaskan, cukup memuaskan, atau tidak sama sekali.
Kebutuhan dan motivasi manusia sangat berpengaruh terhadap produktivitas manusia tersebut. Menurut Maslow dalam Teori Kebutuhan dan Motivasi, kebutuhan manusia, diklasifikasikan ke dalam lima tingkat yang berbeda yaitu Fisiologis, Keamanam, Sosial, Ego/harga diri, dan Perwujudan diri. Dengan mengetahui tingkat-tingkat kebutuhan tersebut maka seorang pemimpin suatu lembaga dapat memotivasi bawahannya berdasarkan tingkat kebutuhan karyawan yang bersangkutan secara individual. Motivasi sendiri mempunyai pengertian suatu dorongan psikologis dari dalam diri seseorang yang menyebabkan ia berperilaku secara tertentu terutama di dalam lingkungan ia bekerja.
Selain motivasi kerja dan interaksi, diperlukan juga insentif yang merupakan salah satu hal yang dapat menggerakkan karyawan. Insentif sendiri dapat berbentuk bermacam-macam, namun yang paling populer dan paling banyak digunakan adalah berbentuk uang atau materi. Dari segi psikologis dapat ditinjau bahwa insentif dapat menambah semangat kerja dari para pegawai, dan dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Dengan adanya insentif yang merupakan uang tambahan maka mutu layanan di perpustakaanpun akan meningkat karena kesejahteraan para pegawai menjadi terjamin.
Selain kriteria tersebut yang harus terpenuhi demi sukses dan berhasilnya suatu instansi khususnya perpustakaan, komunikasi juga sangat diperlukan. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian dan penerimaan berita, pesan atau informasi dari seseorang ke orang lain. Suatu komunikasi yang tepat tidak bakal terjadi, kalau tidak ada sumber (penyampai atau komunikator) berita (pesan) menyampaikan secara tepat dan penerima berita (komunikan) menerimanya tidak dalam bentuk yang salah karena adanya gangguan. Namun demikian, komunikasi dalam kenyataannya tidak seperti yang dikatakan itu. Masih terdapat sejumlah kemungkinan penghalang, dan penyaring di dalam saluran komunikasi. Pengirim (komunikator) mencoba untuk mengkodekan berita, pesan atau buah pikirannya kedalam suatu bentuk yang dianggapnya paling tepat. Kemudian kode-kode tersebut dikirimkan, dan penerima (komunikan) berusaha memahami kode tersebut.
Informasi merupakan bagian dari komunikasi. Tanpa informasi proses komunikasi tidak akan bisa berjalan dengan baik. Dengan demikian maka kehadiran perpustakaan sebagai pengelola informasi menjadi pendukung dan pelancar proses komunikasi. Demikian pula sebaliknya bahwa perpustakaan sebagai organisasi membutuhkan bentuk komunikasi yang efektif dan efisien untuk berjalannya organisasi tersebut dengan baik. Untuk komunikasi yang efektif dan efisien dibutuhkan penerapan psikologi yang bisa mengubah perilaku seseorang dari tidak peka dengan lingkungan sekitar menjadi lebih berjiwa sosial dan peka terhadap lingkungan, lebih menghargai orang lain, bisa lebih tahu kebutuhan orang lain, bisa menghadapi orang lain dengan tepat, ramah, sopan, dan penuh wibawa. Menjadi seorang yang profesional bukanlah sesuatu yang mudah. Kita dilahirkan tidak dengan menyandang predikat profesional. Oleh karena itu kita semua ingin sukses dalam berkarier atau bekerja. Tidak perlu cerdas dalam belajar suatu hal ataupun dalam bekerja. Kita hanya perlu ketekunan dan terus-menerus bekerja keras untuk dapat berhasil atau sukses dalam bekerja.
C. Kesimpulan
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hubungan antar manusia, secara singkat bisa diartikan sebagai ilmu tentang tingkah laku manusia. Namun pada hakikatnya psikologi bisa diterapkan pada setiap bidang dan segi kehidupan. Psikologi selain sebagai ilmu, juga merupakan seni karena penerapannya di berbagai kehidupan manusia membutuhkan ketrampilan dan kreativitas Ilmu psikologi sangat penting bagi pustakawan, sebab melalui pengetahuan tentang psikologi ini pustakawan dapat meningkatkan profesionalismenya, sehingga dengan keprofesian yang mereka miliki, maka akan memberikan pengaruh positif terhadap kinerja layanan di perpustakaan. Dan dengan kinerja perpustakaan yang bagus maka pemustaka akan merasa puas. Kalau hal tersebut diterapkan pada institusi perpustakaan maka interaksi tersebut terjadi antara pustakawan/pengelola perpustakaan dengan para pengguna jasa perpustakaan atau para pemustaka. Penerapan psikologi kedalam kehidupan manusia membutuhkan kreativitas dan ketrampilan yang mampu memberikan kepuasan kepada pelanggan atau pemustaka.

RUJUKAN
Nursalam. Psikologi Perpustakaan. Bogor: Institut Pertanian Bogor. 2008.
Sofa, Pakde. Pengantar Psikologi Perpustakaan. S.l. 2008.
Suwito, Hartati. Pendekatan Psikologi Dalam Pelayanan Perpustakaan. s.l., s.a.
Suwarno, Wiji. Psikologi Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto. 2009.

Online Public Acces Catalog