Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel
Pengarang: 
Zulkarnain

Keluarga Sejahtera adalah keluarga yang dibentuk atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan spiritual dan material yang layak dan mempunyai hubungan serasi, seimbang dan selaras antar anggota keluarga serta anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungannya. Setelah keluarga terbentuk, anggota keluarga yang ada di dalamnya memiliki tugas masing-masing. Suatu pekerjaan yang harus dilakukan dalam kehidupan keluarga inilah yang disebut fungsi. Fungsi keluarga, menurut Hendi (2001), adalah suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan di dalam atau di luar keluarga. Masalah krisis keluarga dapat diduga muncul sebagai tidak berfungsinya tugas dan peranan keluarga. Secara sosiologis, menurut Melly (1993), keluarga dituntut berperan dan berfungsi untuk mencapai suatu masyarakat sejahtera yang dihuni oleh individu (anggota keluarga) yang bahagia dan sejahtera. Fungsi keluarga perlu diamati sebagai tugas yang harus diperankan oleh keluarga sebagai lembaga sosial terkecil.

Berdasarkan pendekatan budaya dan sosiologis, fungsi keluarga adalah sebagai berikut:
1) Fungsi biologis
Bagi pasangan suami istri, fungsi ini untuk memenuhi kebutuhan seksual dan mendapatkan keturunan. Fungsi ini memberi kesempatan hidup bagi setiap anggotanya. Keluarga disini menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan dengan syarat-syarat tertentu.

2) Fungsi pendidikan
Fungsi pendidikan mengharuskan setiap orang tua untuk mengkondisikan kehidupan keluarga menjadi situasi pendidikan, sehingga terdapat proses saling belajar di antara anggota keluarga. Dalam situasi ini orang tua menjadi pemegang peran utama dalam proses pembelajaran anak-anaknya, terutama di kala mereka belum dewasa. Kegiatannya antara lain melalui asuhan, bimbingan, contoh dan teladan.

3) Fungsi beragama
Fungsi beragama berkaitan dengan kewajiban orang tua untuk mengenalkan, membimbing, memberi teladan dan melibatkan anak serta anggota keluarga lainnya mengenai kaidah-kaidah agama dan perilaku keagamaan. Fungsi ini meng-haruskan orang tua, sebagai seorang tokoh inti dan panutan dalam keluarga, untuk menciptakan iklim keagamaan dalam kehidupan keluarganya.

4) Fungsi perlindungan
Fungsi perlindungan dalam keluarga ialah untuk menjaga dan memelihara anak dan anggota keluarga lainnya dari tindakan negatif yang mungkin timbul. Baik dari dalam maunpun dari luar kehidupan keluarga. Kita memberikan pendidikan kepada anak dan anggota keluarga lainnya berarti memberikan perlindungan secara mental dan moral, disamping perlindungan yang bersifat fisik bagi kelanjutan hidup orang-orang yang ada dalam keluarga itu. Secara fisik keluarga harus melindungi anggotanya supaya tidak kelaparan, kehausan, kedinginan, kepanasan, kesakitan dan lain-lain.

5) Fungsi sosialisasi anak
Fungsi sosialisasi berkaitan dengan mempersiapkan anak untuk menjadi anggota masyarakat yang baik. Dalam melaksanakan fungsi ini, keluarga berperan sebagai penghubung antara kehidupan anak dengan kehidupan sosial dan norna-norma sosial, sehingga kehidupan disekitarnya dapat dimengerti oleh anak; dan pada gilirannya anak dapat berpikir dan berbuat positif di dalam dan terhadap lingkungannya. Lingkungan yang mendukung sosialisasi anak antara lain tersedianya lembaga-lembaga dan sarana pendidikan serta keagamaan.

6) Fungsi kasih sayang
Dalam fungsi ini keluarga harus dapat menjalankan tugasnya menjadi lembaga interaksi dalam ikatan batin yang kuat antara anggotanya, sesuai dengan status dan peranan sosial masing-masing dalam kehidupan keluarga itu. lkatan batin yang dalam dan kuat ini, harus dapat dirasakan oleh setiap anggota keluarga sebagai bentuk kasih sayang. Dalam suasana yang penuh kerukunan, keakraban, kerjasama dalam menghadapi berbagai masalah dan persoalan hidup. Keadaan ini menjadi ciri dari kehidupan yang sejahtera dan bahagia.

7) Fungsi ekonomis
Fungsi ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan kesatuan ekonomis. Aktivitas dalam fungsi ekonomis berkaitan dengan pencarian nafkah, pembinaan usaha, dan perencanaan anggaran biaya, baik penerimaan maupun pengeluaran biaya keluarga. Pelaksanaan fungsi ini oleh dan untuk keluarga dapat meningkatkan pengertian dan tanggung jawab bersama para anggota keluarga dalam kegiatan ekonomi.

8) Fungsi rekreatif
Fungsi ini tidak harus dalam membentuk kemewahan, serba ada, dan pesta pora, melainkan melalui penciptaan suasana kehidupan yang tenang dan harmonis didalam keluarga. Suasana rekreatif akan dialami oleh anak dan anggota keluarga lainnya apabila dalam kehidupan keluarga itu terdapat perasaan damai, jauh dari ketegangan batin, dan pada saat-saat tertentu merasakan kehidupan bebas dari kesibukan sehari-hari. Di samping itu, fungsi rekreatif dapat diciptakan pula di luar rumah tangga, seperti mengadakan kunjungan ke tempat-tempat yang bermakna bagi keluarga.

9) Fungsi status keluarga
Fungsi ini dapat dicapai bila keluarga telah menjalankan fungsinya yang lain. Fungsi keluarga ini menunjuk pada kadar kedudukan (status) keluarga dibandingkan dengan keluarga lainnya. Status ini terungkap dari pernyataan orang tentang status seseorang atau keluarganya. Keluarga merupakan sistem sosial yang terdiri dari beberapa subsistem yang berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Subsistem dalam keluarga adalah fungsi-fungsi hubungan antar anggota keluarga yang ada dalam keluarga, seperti fungsi hubungan ayah dan ibu, anak dengan ayah, anak dengan ibu, dan sebagainya. Di dalam keluarga berlaku hubungan timbal balik antar para anggotanya dan juga antara para anggota keluarga, mempunyai status (kedudukan) dan peran yang sesuai dengan status tersebut.

Timbul persoalan lebih lanjut, siapakah yang mempunyai tanggung-jawab utama untuk mendidik dan menumbuhkan anak untuk menjadi manusia yang "seutuhnya". Menurut Moeljarto (1987), kiranya dapat dimengerti bahwa bagi anak dalam usia dini, learning environment yang pertama dan utama adalah keluarga dengan ibu sebagai pusatnya. Keluarga, sebagai satuan sosio-biologis yang diikat oleh rasa asih (affection), asuh (care), tolong-menolong (support) dan pembagian kerja di antara anggotanya, menduduki posisi strategis untuk menciptakan learning environment yang positif bagi tumbuh kembang anak.

Di antara anggota keluarga tadi, ayah, dan terutama ibu, menduduki posisi yang strategis. Fungsi ayah jelas tidak terbatas pada pencari nafkah. Ayah sering mengejawantahkan figur yang angker (remote figure) yang menjadi simbol disiplin dan kewibawaan serta keadilan. Meskipun citra ayah sebagai figur yang angker dewasa ini telah mengalami erosi, namun fungsinya sebagai simbol kewibawaan dan penegak disiplin masih tetap.
Figur yang paling menentukan pribadi anak di kemudian hari adalah ibu. Posisi strategis ibu inheren di dalam bentuk hubungan yang khusus antara ibu dan anak. Terpisahnya jasmani ibu dan jasmani anaknya pada waktu kelahiran. Tidak memutuskan hubungan emosional dan hubungan sosial antara keduanya (Moeljarto; 1987). Ibu tetap menjadi obyek lekat (attachment object) atau tambatan hati utama si anak. Melalui posisinya yang strategis ini, ibu dapat melaksanakan peran didiknya menuju terwujudnya manusia "seutuhnya".

DAFTAR PUSTAKA
Efendi S, Sairin S dan Dahlan MA ,1993, Membangun Martabat manusia : Peranan llmu-llmu Sosial dalam Pembangunan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Hendi S, 2001, Pengantar Studi Sosiologi Keluarga, Bandung : Pustaka Setia.
Lubis M, 1992, Budaya, Masyarakat, dan Manusia Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Manan I, 1989. Sosiologi : Suatu Pengantar. Bandung : Ghalia Indonesia.
Sobari M, 1995, Kesalehan dan Tingkah Laku Ekonomi, Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya.
Soemarjan S, 1962, Sosiologi,. Jakarta : Radjawali Press.

Online Public Acces Catalog