Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel
Pengarang: 
Dra.Sondang Pardede

Budaya baca adalah salah satu masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, pihak pemerintah telah berupaya mengembangkan minat baca dengan melakukan beberapa program, tetapi program yang ditawarkan oleh pemerintah dikalahkan dengan munculnya program – program yang ada ditelevisi, Internet, video game dan program-program visual lainnya yang mengasyikkan yang tidak banyak memerlukan pemikiran yang dalam. Disinilah msayarakat Indonesia banyak menghabiskan waktunya. Ada beberapa beberapa permasalahan dan penyebabnya mengapa masyarakat Indonesia budaya bacanya rendah?

LATAR BELAKANG
Mengapa membaca tiba-tiba menjadi penting untuk dibahas dan dikupas dalam berbagai diskusi, workshop ataupun seminar di negeri ini ?. Mengapa bahkan demi meningkatkan kesadaran akan pentingnya membaca, pemerintah sampai mencanangkan satu tanggal khusus sebagai hari membaca Nasional ?. Mengapa rendahnya minat baca, dituduh menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas sumber daya manusia kita ? Atau Mengapa misalnya, salah satu indikator yang digunakan kementerian SDM dalam mengukur Indeks Pembangunan Manusia Indonesia adalah tingkat melek huruf dan budaya baca masyarakatnya?, pertanyaan-pertanyaan diatas menggelitik, seolah Indonesia sedang berhadapan dengan seorang tamu yang dikenal, yang tiba-tiba saja mengambil porsi terlalu besar dalam lingkup kehidupannya.
Setiap kita mungkin mempunyai pemahaman dan pengalaman yang berbeda-beda tentang membaca. Bagi sebagian kita, membaca tak lebih penting dari menonton, menulis atau bercengkrama, tapi bagi sebagian yang lain, membaca bahkan teramat vital, ia lebih urgent dari makan, beribadah, bekerja mencari nafkah, atau dari keseluruhan aktivitas keseharian.

Tulisan ini tidak hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan “berat” di atas, yang berangkat dari paradigma yang mengasumsikan “membaca” sebagai sesuatu yang harus dipaksakan”. Saya sangat setuju bahwa “membaca” adalah aktivitas yang penting yang banyak mamfaatnya antara lain dengan membaca dapat membangun karakter, untuk pengembangan eksistensi diri, sekaligus mungkin dapat menjadi “kunci” untuk membuka pintu-pintu bebal yang berkarat” dari rendahnya kualitas SDM manusia Indonesia. Namum saya memandang perlu ada pendekatan yang lebih menyenangkan dan tak dipaksakan sehingga aktivitas membaca menjadi natural dari individu-individu manusia.
Fenomena budaya baca dari uraian di atas merupakan hal yang perlu di waspadai dan di tangani secara nasional dan terpadu. Sebab, apapun bentuk dari program pembangunan nasional akan menjadi pembangunan yang bersifat maya dan tidak akan sampai pada sasaran yaitu pengembangan kedewasaan berpikir masyarakat Indonesia, atau boleh di katakan secara komprontal sasaran pembangunan tersebut akan berorientasi kepada pembangunan fisik semata bukan berorientasi kepada penguasaan iptek yang sifatnya dinamis yaitu timbul dari rasa ingin tau masyarakat itu sendiri yang di gali dari perkembangan media cetak dan sumber-sumber informasi yang perkembangannya seperti jamur di musim hujan. Ketertinggalan akan informasi dan ilmu pengetahuan akan menambah jurang semakin jauhnya ketertinggalan kita dari masyarakat internasional.
Berbagai program nasional pemerintah belum memiliki sense of crisis terhadap perkembangan budaya baca pada masyarakat, yang artinya program gemar membaca terhadap semua lapisan masyarakat bawah atau grass root belum tersentuh oleh pemerintah. Ini dapat kita lihat dengan minimnya anggaran pembangunan di bidang pengembangan lembaga perpustakaan pada masyarakat atau atau pengembangan bahan bacaan dan sumber-sumber informasi .
Memang sesuatu hal yang sangat kompleks, apabila pada saat ini bangsa kita masih menghadapi multi krisis yang berkepanjangan. Akan tetapi, kita juga harus selalu berfikir realistis bahwa budaya baca merupakan masalah sosial bangsa kita. Jika kita menarik benang merah dari seluruh krisis yang di hadapi saat ini boleh di katakan bahwa masyarakat Indonesia sebagian besar kedewasaan psikologis, berfikirnya masih belum kepada tingkat berfikir rasional. Hal ini di akibatkan kurangnya sumber informasi atau tidak adanya keinginan masyarakat untuk belajar sendiri dengan modal membaca dan menggali ilmu pengetahuan.

BUDAYA BACA RENDAH
Masalah kita saat ini minat baca masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan di Indonesia. Budaya baca tidak akan bisa di wujudkan dengan waktu singkat, akan tetapi butuh waktu panjang untuk mewujudkannya, apalagi masyarakat kita di perdesaan sebagian besar berfikir untuk mempertahankan hidup sehari-hari. Di samping itu system pendidikan nasional harus kembali di reformasi. Hal ini dapat kita lihat di mana kemandirian seorang anak didik di bangku sekolah belum menunjukkan bahwa mereka sudah menjadikan membaca sebuah kebutuhan. Hal ini terungkap ketika sebuah lembaga internasional IEA (International Education of Assosiation) sebuah asosiasi internasional yang secara periodic menyelenggarakan riset untuk evaluasi dan pencapaian pendidikan di sejumlah Negara. Indonesia berada pada urutan terendah dari 27 negara dalam distribusi skor kemampuan naratif berdasarkan skala rasch.
Dari hasil penelitian terbaru di paparkan bahwa anak didik sekolah dasar kita dalam tes kemampuan membaca hanya mendapat skor 33,9 yaitu kemampuan membaca dan mengisi dokumen, sedangkan kemampuan dalam dominasi narasi 36,4 di banding dengan anak didik dari Negara lain cukup jauh mendapat skor sekitar 50 (kompas, 30 april 1997).
Kenyataan ini sangat berkaitan jika mengamati dalam lingkungan kita yaitu dengan munculnya berbagai permainan yang di tawarkan berbasis teknologi, seperti video games, internet, permainan ketangkasan yang secara langsung membawa malapetaka bagi perkembangan anak. Keseharian anak hampir di habiskan untuk bermain di pusat permainan yang begitu gampang di temukan di sekitar kita. Berbicara masalah internet, warung- warung Internet tidak pernah sepi dari pengguna jasa. Apalagi anak-anak mereka tahan menysihkan uang jajannya untuk pergi ke warnet. Di warnet yang lakukan bukan mencari informasi ilmu pengetahuan, tetapi mayoritas mereka main games secara online. Internet bukan saja terdapat di warnet-warnet, tetapi sekarang sudah banyak dirumah yang memasang internet. di sisi lain muncul pula stasiun televisi baru yang menyajikan program acara yang menarik baik bagi kalangan orang dewasa maupun anak-anak yang menonton, sebab jika program satu televisi kurang bagus, masih banyak program lain yang dapat di pilih dengan menggunakan remote control
Jika dihitung secara matimatis betapa banyaknya waktu terbuang begitu saja. Apabila hal ini kita adopsi, keseharian kita gunakan jadikan untuk membaca betapa banyaknya informasi dan ilmu pengetahuan yang dapat kita jadikan sebagai investasi dalam mengembangkan kedewasaan berfikir dan keterampilan di masa depan.

C. FAKTOR-FAKTOR PENYEBABNYA
Pertanyaan kita mengapa minat baca di Indonesia masih rendah? Sebenarnya kalau kita simak ternyata ada yang menyebabkan rendahnya minat baca di Indonesia anta lain:
1. Kurikulum pendidikan dan system pembelajaran di Indonesia belum mendukung kepada peserta anak didik, semestinya kurikulum atau sistem pembelajaran yang ada mengharuskan membaca buku lebih banyak atau mencari informasi lebih dari apa yang di ajarkan. Sebagai rujukan mencari informasi adalah keperpustakaan.
2. Melekatnya budaya dengar, Artinya budaya dengar sudah menjadi bagian yang melekat dari kepribadian masyarakat kita jika dibandingkan dengan budaya baca. Masih terlalu banyak jenis hiburan, permainan game dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian untuk menbaca buku kepada hal – hal yang bersifat negative.
3. Rendahnya apresiasi keluarga, Artinya keluarga sebagai pranata social pertama yang sangat mempengaruhi kedewasaan psikologis anak akan membentuk watak dan kepribadian anak jika ia sudah menjadi dewasa yang seharusnya selalu member dukungan sejak usia dini, tetapi kebanyakan lingkungan keluarga yang kesehariannya hanya disibukkan oleh kegiatan-kegiatan keluarga yang tidak menyentuh aspek-aspek penumbuhan minat baca pada keluarga.
4. Rendahnya produksi buku-buku yang berkualitas di Indonesia, dan masih adanya kesenjangan penyebaran buku di perkotaan dan pedesaan, yang mengakibatkan terbatasnya sarana bahan bacaan dan kurang meratanya bahan bacaan ke pelosok tanah air.
5. Minimnya sarana untuk memperoleh bahan bacaan, seperti perpustakaan, taman bacaan. Bahkan hal ini masih dianggap merupakan sesuatu yang tempat yang ekslusif untuk didatangi.
6. Rendahnya perhatian pemerintah, artinya baik pusat dan daerah memiliki sense of crisis yang sangat rendah terhadap budaya baca masyarakat. Hal ini terlihat bahwa pengembangan perpustakaan dan minat baca masyarakat tidak mendapat perhatian yang serius. Fenomena rendahnya minat baca masyarakat yang merupakan krisis social yang harus ditangani secara merata di seluruh lapisan masyarakat khususnya daerah-daerah yang jauh dari mobilitas kota. Pengembangan perpustakaan dan bahan bacaan harus menjadi prioritas utama dari pembangunan nasional.
7. Kondisi ekonomi atau minimnya kesadaran orang tua untuk menyediakan buku-buku bagi anak menyebabkan tidak mendapatkan buku-buku yang dibutuhkan.

Kesimpulan bahwa rendahnya pengembangan minat baca di tanah air akan biasa berjalan merata apabila masalah ini bukan saja tanggung jawab pemerintah, akan tetapi semua harus turut bertanggung jawab bersama baik lingkungan, pemeritahan maupun pihak swasta.

DAFTAR PUSTAKA
Franz Kurt dan Meir Benhard 1986. Was Kinder alles lessen 1,- terjemahan membina Minat Baca anak oleh Supomo. Bandung :Remaja Karya.
Kompas , 1997, kemampuan baca anak bangsa Indonesia. Rendah : 30 april 1997.
Leonhardt, Marry 2001: 99 cara menjadikan Anak anda Kerajinan membaca, Bandung : KAIFA.

Online Public Acces Catalog