Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel
Pengarang: 
Hasudungan Ambarita, S.Sos

SOSOK Pahlawan pejuang wanita Indonesia R.A. Kartini sudah tidak asing lagi di telinga kita, karena setiap tahun kita tidak pernah lupa memperingati tanggal dan bulan kelahirannya Kisah kegigihan pada masa hidupnya mewarnai perjuangan wanita Indonesia sampai saat ini untuk meraih hak emansipasi dan peningkatan taraf hidupnya. Hari Kartini juga menginspirasi semangat juang kaum pria dalam meraih kemerdekaan terutama dalam mengejar ketertinggalan dalam bidang pendidikan dan pengetahuan,Bila kita kembali membaca sejarah, dulu kaum perempuan cendrung ditempatkan dibelakang layar, tidak boleh belajar, dilarang membaca dan kurang mendapat kesempatan dalam memperolah hak haknya untuk menjadi kaum yang terdidik. Hal inilah yang membuat hati seorang Kartini menjadi galau. Yang membuatnya harus berjuang dan tidak pasrah menerima nasib sebagai kaum hawa. Impiannya menjadikan kaum hawa untuk mempunyai hak yang sejajar dengan kaum pria, membuahkan karyanya yang berjudul “Habis gelap terbitlah Terang” Bila kita mengenang dan memaknai perjuangan Kartini, menegaskan betapa pentingnya arti membaca dalam meningkatkan kualitas kehidupan,Kita semua tahu bahwa membaca adalah salah satu aspek utama yang harus terjadi dalam proses berlangsungnya pendidikan. Dan lewat pendidikanlah semua orang akan memperoleh pencerahan, tanpa pendidikan kegelapan menyelimuti manusia karena tidak berpengetahuan. Sebab tanpa pengetahuan manusia tidak bisa berbuat apa apa, karena orang tanpa memiliki pengetahuan bagaikan berjalan menelusuri kegelapan.Pengetahuanlah yang membuat orang bisa melihat terang dan bisa berjalan tanpa terantuk. Kita dapat katakan bahwa Amanat Pembukaan UUD 45 , adalah kelanjutan dari cita cita perjuangan RA Kartini, dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, supaya menjadi bangsa yang cerdas, bangsa yang bermartabat, bangsa yang merdeka, bangsa yang maju dan bangsa yang sejahtera berkeadilan. Kecerdasan bangsa ini tentunya diperoleh dari Pendidikan, baik pendidikan formal, informal maupun nonformal. Pendidikan yang berkualitas tentu diperoleh dari sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia dan dikelola dengan baik, dan yang tidak kalah pentingnya adalah guru sebagai pendidik yang berkualitas. Menjadi guru yang berkualitas tentunya diperoleh dari sekolah yang menyediakan sarana prasana belajar mengajar yang berkualitas. Sarana prasarana pendidikan dan sarana belajar yang tidak kalah penting yang sering terlupakan selain ruang kelas, meja, dan kursi belajar adalah perpustakaan.Sesungguhnya tanpa guru dan tanpa kelas kita masih bisa belajar asal ada buku untuk dibaca. Buku untuk dibaca biasanya berada di perpustakaan.Menurut Supriyanto dalam Sambutannya pada Pembukaan Rakerpus IPI di Mataram tiga tahun lalu “ Buku, - Buka,- Baca,- Bisa “( 4B )” Ini menandakan bahwa membaca buku membuat kita berpengetahuan dan bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari hari. “Malas membaca akan dekat dengan “kemiskinan”, dan kemiskinan dekat dengan “kebodohan,”itu menurut Tanto Yahya Duta Baca Indonesia ketika berada di jambi beberapa tahun yang lalu. Kebiasaan membaca biasanya akan diikuti dengan kebiasaan menulis. Kebiasaan menulis biasanya akan menghasilkan kreativitas, dan kreativitas akan melahirkan kekayaan intelektual dan kekayaan intelektual menciptakan produktivitas, Kebiasaan membaca, kegemaran membaca serta budaya membaca tentunya akan tumbuh, jika di sekitar kita tersedia bahan bacaan yang dengan mudah untuk didapat, mudah dijangkau dan juga tersedia dengan bermacam macam topik. Kebiasaan dan Budaya membaca akan tercapai seandainya keberadaan perpustakaan diberi peran strategis dan menjadi bagian keseharian aktivitas kita.Kehadiran perpustakaan untuk terlibat dalam setiap permasalahan dan pembahasan topik atau isu penting masih dianggap remeh.Kita ambil salah satu contoh kasus pulau berhala sudah lama bergulir, tetapi perpustakaan tidak pernah dilibatkan untuk mencari informasi dalam menetapkan duduk perkara ini . Sebab perpustakaan adalah salah satu lembaga informasi yang independen yang netral yang tidak akan memihak dan tidak memiliki tendensi seperti misalnya lembaga politik, lembaga hukum dan lembaga lain yang terkait.Pada hal pada dasarnya secara idealnya perpustakaan merupakan sumber dan pusat informasi dan data terpercaya serta sebagai wahana belajar sepanjang hayat. Keberadaan Perpustakaan di Indonesia semenjak Zaman Perjuangan RA Kartini, Zaman Kemerdekaan, Zaman Orde Baru dan sampai kini Zaman Reformasi belumlah memuaskan kita semua. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan perpustakaan di Indonesia.Dari sekian banyak sekolah di Indonesia mulai dari Taman Kanak Kanak sampai dengan Perguruan Tinggi,dan dari Sekian banyak Instansi/Institusi di tanah air, kita dapat melihat masih kebanyakan memiliki perpustakaan yang memprihatinkan dan bahkan tidak memiliki perpustakaan sama sekali.Selain itu bila dilihat dari sisi anggaran operasional Perpustakaan dari berbagai jenis dan tingkatan masih sangat kecil , sehingga tidak sebanding dengan beban tugas dan misi/visi yang diemban oleh perpustakaan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka tidak berlebihan jika Perpustakaan dijadikan sebagai barometer kemajuan suatu bangsa.Ketidakseriusan pengelolaan perpustakaan merupakan suatu pertanda bahwa kita belum cerdas, tidak perlu marah ataupun malu kalau dibilangin bangsa yang bodoh, malas dan tidak kreatif. Kebijakan pembangunan bidang insfrastruktur pendidikan masih lebih terpokus pada jumlah gedung sekolah, jumlah kampus, kapasitas ruang kelas, jumlah guru dan dosen . Pembangunan pendidikan belum menyentuh kepada persoalan fundamental.yaitu pembangunan sarana dan prasarana membaca ,yang bermuara pada pembangunan kualitas Sumber daya manusia.Sarana belajar yang sesungguhnya adalah perpustakan.Sementara Perpustakaan masih merupakan urusan paling belakang untuk dibicarakan, dan seringkali terlupakan. Perpustakaan kurang mendapat perhatian, bahkan terkesan buang - buang anggaran dan dijadikan sebagai tempat buangan pegawai/karyawan yang bermasalah, karena tidak bisa menyumbang Devisa.Secara perhitungan ekonomi memang sangat merugikan karena biaya operasional perpustakaan tidaklah kecil, apabila dibandingkan dengan keuntungan dalam nilai investasi bisnis finansial. Tetapi yang lupa diperperhitungkan adalah berapa harga satu orang anak cerdas, dan berapa harga seluruh warga bangsa yang cerdas, yang mampu membuat perubahan demi perubahan dari hasil pemikiran cemerlang dan hasil karya kreativitasnya . Kecerdasan dari hasil membaca di perpustakaan tidak seharusnya dilihat hanya dengan kasat mata, atau tidak hanya dinilai dengan uang semata.Jadi sering kali output perpustakaan terabaikan karena tidak menghasilkan uang. Pada hal kita perlu juga menggarisbawahi dampak positif yang diperoleh dari membaca. Perpustakaan sudah pasti bagaikan pelita yang bercahaya menyinari setiap kegelapan,tentunya adalah kegelapan akibat kekurangan pengetahuan, kegelapan karena kebodohan tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu harus melangkah kemana, sebab tidak melihat adanya cahaya.Pelita itu akan bersinar kalau dinyalakan, pelita itu akan bercahaya kalau ada minyak.Perpustakaan adalah pintu dan jendela rumah pengetahuan, tanpa pintu dan tanpa jendela rumah akan gelap. Perpustakaan akan menjadi cahaya pengetahuan kalau kita menyalakan sumbunya, sinarnya akan melenyapkan kebodohan dan kemiskinan, perpustakaan akan terus menyala kalau buku dan koleksi sebagai bahan bakarnya terus tersedia. Perpustakaan terus bersinar bangsapun jaya sakti. Perpustakaan redup, negeripun mati suri, Perpustakaan mati, bangsapun gelap abadi. Pernyataan di atas semakin menguatkan saya tatkala saya membaca cerita perjalanan teman saya bernama Suherman (Warta Perpusnas 2012 : 23 vol XVII No.4) yang berkunjung ke berbagai perpustakaan di Amerika Serikat, sebagai hadiah atas prestasinya meraih Pustakawan berprestasi terbaik pertama tingkat Asia Tenggara. Dalam kesimpulan ceritanya dia berujar ”pantaslah Amerika menjadi negara maju”! hampir seluruh perpustakaannya bagaikan supermarket/mall di Indonesia yang selalu ramai tidak pernah sepi pengunjung. Ambil salah satu contoh Perpustakaan Umum san Fransisco dengan jumlah penduduk hanya 800.000 jiwa tetapi setiap tahunnya dikunjungi oleh 6 juta orang, lalu muncul pertanyaan “Ada apa denganmu perpustakaan Indonesiaku ? ”

 

Online Public Acces Catalog