Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel
Pengarang: 
Hasudungan Ambarita, S.Sos.

PEDOMAN FUMIGASI BAHAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

Sebelum membicarakan lebih lanjut tentang fumigasi bahan pustaka, ada baiknya disinggung sedikit mengenai keadaan iklim di Indonesia, terutama keadaan relatif lembab udara Gangguan iklim yang terjadi sehari hari , terutama kalau terjadi lembab udara terlalu tinggi akan menyebabkan koleksi bahan pustaka tumbuh dan berkembang jamur dengan baik dan subur. Demikian juga apabila terjadi tiba tiba kelembaban udaranya menurun menjadi terlalu rendah juga dapat merusakkan setiap koleksi bahan perpustakaan. Selain itu disamping kualitas bahan dasar pembuat kertas tentunya koleksi bahan pustaka buku juga dapat dirusak oleh karena lingkungan, usia bahan pustaka, salah urus dan penanganan dan akhirnya tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan kerusakan oleh faktor biota, termasuk di dalamnya serangga. Masalah inilah yang akan dibahas sedikit lebih banyak. Faktor faktor yang mempengaruhi kerusakan bahan pustaka yaitu faktor fisika, kimia, biota, manusia salah urus dan penanganan serta faktor faktor lain yang tidak terduga. Masalah biota tampaknya dengan kondisi iklim tropis seperti di Indonesia layak untuk diperhatikan. Berbagai upaya cara pencegahan banyak dilakukan, antara lain fumigasi Kewajiban setiap perpustakaan atau pustakawan memperhatikan hal hal berikut. a. Menjamin bahwa bahan pustaka akan dipergunakan sedemikiaan rupa sehingga tidak rusak b. Membatasi pemakaian bahan pustaka yang rusak, langka, berharga, dan sejenisnya hanya untuk mereka yang betul betul memerlukan bahan aslinya. Dalam penyimpanan bahan bahan perpustakaan tersebut patut diperhatikan tempat simpan pada suatu ambal dan rak yang sesuai. Setiap ambal harus sedkit lebih besar dari pada bahan perpustakaan yang diletakkan di atasnya dengan menyisihkan sedikit ruang untuk peredaaran udara. Dengan kata lain , penyusunan bahan perpustakaan buku itu tidak perlu rapat. Dengan demikian keadaan atau kondisi ruangan penyimpanan sangat berperan aktif menentukan prosess kerusakan bahan yang disimpannya. Ruangan penyimpanan yang baik dan memadai dengan atau memenuhi persyaratan akan sangat memperbaiki daya tahan simpan bahan perpustakaan sehingga tidak mudah dan cepat rusak. Ruangan penyimpanan yang kurang memenuhi syarat syarat penyimpanan akan mempercepat kerusakan bahan perpustakaan seperti suhu dan kelembaban yang berubah – ubah dan tidak memenuhi standar sebagaimana mestinya seperti pipa pipa saluran air bocor / rusak dan atap bocor dan lain sebagainya. Sanitasi ruangan penyimpanan atau kebersihan dan kesehatan ruang penyimpanan juga harus diperhatikan, jika ruang simpan tidak bersih atau tidak sehat serangga akan bertambah sehingga bahan perpustakaan yang disimpan akan mudah rusak dan tidak tahan lama. Kebersihan dan kesehatan ruang penyimpanan juga dapat meningkatkan efesiensi kegiatan fumigasi dan pengendalian hama atau serangga dalam ruang penyimpanan.

BAB II KOLEKSI BAHAN PERPUSTAKAAN

Koleksi bahan perpustakaan yang dimiliki setiap perpustakaan semakin lama, semakin berkembang, jumlah, jenis, ragam dan bentuknya. Namun secaara sederhana koleksi bahan pustaka itu dapat dibedakan menjadi dua bagian sbb : a. Koleksi bahan pustaka buku, yang dimaksudkan disini adalah koleksi yang terdiri atau yang terbuat dari bahan buku kertas b. Koleksi bahan pustaka bukan buku adalah koleksi bahan pustaka yang terbuat dari bahan kulit, daun lontar, mikrofilm, mikrofis, dsb Mungkin saja sedikit berbeda pengertian tersebut dalam perpustakaan, khususnya apa yang disebut bahan pustaka bukan buku ( non – book material ) seperti koleksi peta dan sejenisnya, Dalam tulisan ini dibedakan atas bahan dasar apakah bahan pustaka tersebut dibuat Baik koleksi bahan pustaka buku maupun koleksi bukan buku, kedua duanya akan mengalami kerusakan oleh karena fisik itu sendiri, ddisamping oleh pengaruh lingkungan sebagai berikut. A. Koleksi bahan pustaka Buku. Buku yang kita kenal tentu saja buku yang terbuat dari bahan buku kertas. Menurut SII ( Standar Industri Indonesia ) 0658-82 pengertian kertas adalah lembaran lembaran lepas yang terbuat dari serat serat selulosa alam dan atau buatan yang telah mengalami penerjaan penggilingan ditambah beberapa bahan tambahan yang saling tempel menempel dan jalin menjalin. Serat kapas akan menghasilkan kertas yang berkualitas tinggi , kuat dan stabil, sedangkan kertas yang terbuat dari serat kayu atau bahan lain proses kerusakan dapat terjadi sejak awal setelah kertas selesai dibuat. Hal ini dapat terjadi oleh karena kertas yang dibuat dengan cara ini kemudian direkat (sizing) dengan perekat dari binatang untuk menambah kekuatan kertas, memperlicin permukaan dan agar tinta tidak mengembang ketika ditulis di atas kertas tersebut. Dengan demikian , selama masa penyimpanan selulosa-selulosa tersebut akan mengalami proses kerusakan karena terurai. Apalagi , jika bahan pembuat kertas kurang baik kualitasnya. Disamping kertas sebagai bahan buku sebuah bahan pustaka buku , patut diperhatikan bahwa lembaran lembaran kertas lepas tersebut dihimpun dan atau digabungkan menjadi satu badan atau blok buku (isi buku) yang dilindungi dengan ban atau sampul sehingga terwujudlah sebuah buku. Ini berarti bahwa di dalam bahan pustaka buku tersebut akan terdiri dari beberapa komponen. Maksudnya , disamping kertas terdapat pula benang jahit atau lem untuk menggabungkan lembaran lembaran lepas, kain, kan komponen jilid lainnya. Komponen2 ini adalah sebagian besar merupakan makanan benda benda organik atau jasad renik lain Khusus pertumbuhan jasad renik , serangga akan didukung faktor fisika atau kimiawi tertentu seperti suhu dan kelembaban yang tinggi, tempat penyimpanan yang terlalu penuh, debu, serta sirkulasi yang buruk. Disamping itu frekuwensi pemakaian yang tinggi,, salah urus dan penanganan juga dapat mengakibatkan kerusakan. Akibatnya bahan perpustakaan buku dengan beberapa jenis musuh dan kerusakan mengakibatkan buku seperti jilidannya rusak, kertasnya rapuh, berubah warna menjadi kuning kecoklatan, coklat, sobek, berlubang-lubang, dan masih banyak jenis kerusakan lain. Pada umumnya kerusakan kerusaakan tersebut dapat dicegah atau diperlambat dengan cara menghindari penyebab kerusakan, memperhatikan kondisi lingkungan tempat penyimpanan, melakukan pengawetan, perbaikan dst yang akan dapat memperpanjang umur penggunaan serta dapat mempertahankan bentuk fisik asli bahan perpustakaan buku itu sendiri. Pada umumnya setiap perpustakaan yang menyimpan koleksi bahan perpustakaan terutama buku . Karena berbagai macam pengaruh kerusakan seperti tsb di atas , paling tidak akan dijumpai beberapa jenis dan jenis bahan pustaka antara lain sbb : 1. Bahan pustaka yang masih baik, artinya buku dalam kondisi masih utuh , belum berubah warna , bersih, belum berpenyakit dan sejenisnya 2. Bahan Pustaka yang berpenyakit, artinya buku telah diserang serangga, mengandung asam, timbul noda hitam, noda coklat, dan sejnisnya 3. Bahan pustaka yang rusak, artinya buku dalam kondisi rusak dengan berbagai tingkat kerusakan yang memerlukan tindakan perbaikan atau restorasi yang sepadan dengan tingkat dan kondisi kerusakan. Untuk jenis dan kondisi bahan pustaka yang pertama atau masih baik, pemeliharaannya dilakukan dengan cara tindakan pencegahan, yaitu dengan melakukan pemeliharaan, dan perbaikan lingkungan tempat penyimpanan terkendali, termasuk membersihkan debu dan kotoran. Jenis bahan pustaka yang kedua atau berpenyakit , diperlukan cara atau tindakan pengobatan antara lain fumigasi. Cara itu berguna untuk membunuh jamur dan serangga yang sedang menyerang. Fumigasi inilah yang akan dibicarakan lebih lanjut dalam tulisan ini. Disamping fumigasi, jenis pengobatan lain seperti deasidifikasi untuk menghilangkan atau menetralkan asam dan melindungi kertas terhadap pengaruh asam dari luar dan sebagainya. Akhirnya jenis dan kondisi bahan pustaka yang ketiga atau sudah rusak. Artinya, buku dalam kondisi tidak sebagaimana mestinya seperti rusak dan sejenisnya, oleh karena itu diperlukan tindakan penanganan langsung terhadap fisik bahan pustaka itu sendiri untuk perbaikan atau restorasi. B. Koleksi bahan pustaka bukan buku Seperti kita maklumi kebudayaan manusia untuk menulis dan mencatat peristiwa-peristiwa yang dianggap penting atau bersejarah ternyata telah dilakukan sejak dahulu, dimulai sejak adanya peradaban manusia sendiri. Bahan bahan yang dipergunakan sebagai alat untuk mencatat kejadian atau peristiwa tersebut beraneka ragam, tergantung tingkat peradaban dan kebudayaan masyarakat ketika menulis atau mencatat peristiwa tsb. Perubahan dan perkembangan bahan bahan yang dipergunakan tersebut masih tetap berlangsung dan akan terus berlangsung hingga sekarang dan masa masa yang akan datang sebagaimana kemajuan budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal ini tampak sejak dari zaman batu, banyak ditemukan catatan /tulisan di atas batu, kemudian diteruskan di atas tanah liat, kulit binatang, kulit kayu, bambu, kertas yang sudah banyak kita jumpai sekarang dan seterusnya dapat dicatat atau direkam dalam suatu lempengan yang disebut disk, dsb. Jenis koleksi dalam tulisan buku pedoman ini ialah koleksi bahan pustaka bukan buku terbatas pada jenis jenis yang masih banyak dan bisa dijumpai serta terdapat dibeberapa perpustakaan, anatara lain kulit binatang, kayu, daun lontar dan mikrofilm atau mikrofis. 1. Kulit Binatang Kulit adalah salah satu media yang disenangi sebagai alat tulis menulis. Kerusakan kimiawi pada kulit terutama disebabkan oleh penyamakan kulit yang tidak sempurna atau pencemaran udara. Keadaan lingkungan ruang penyimpanan akan sangat mempengaruhi proses kehancuran/kerusakan kulit. Biasanya hal itu disebabkan oleh serangan mikrobiologis atau insek/serangga. 2. Kayu Benda ini dikenal sejak zaman dahulu dan tentu saja sebelum ditemukannya kertas sehingga kayu merupakan alternatif alat tulis saat itu. Bagian kayu yang paling rapuh adalah yang disebut softwood. Oleh karena itu pembusukan mudah terjadi pada bagian ini. Kemudian ulat dan serangga akan muncul serta selanjutnya akan menyebar ke seluruh bagian kayu. Menurut para ahli kimia kayu, ada dua kelas kayu, yaitu : a. Kayu yang keras (hardwood) b. Kayu yang lunak (softwood) Kayu yang keras mempunyai komponen jaringan selulosa yang sangat padat, tidak terdapat pori pori yang besar dan tidak terdapat unsur gabus. Jenis Kayu ini mempunyai bobot dan berat yang kuat dan memiliki kekuatan yang baik. Oleh karena itu jenis kayu ini tidak mudah terpengaruh oleh perubahan iklim dan lingkungan. Untuk jenis kayu yang lunak biasanya memiliki komponen jaringan selulosa yang sangat jarang dan tidak padat . Disebut sangat lunak karena di dalamnya terdapat unsur gabus atau mengandung gabus. Kayu jenis ini tentu saja sangat mudah terpengaruh oleh perubahan iklim dan lingkungan . Oleh karena itu sangat mudah retak, rusak, atau pecah. Selain itu sangat mudah ditumbuhi jamur dan diserang serangga. 3. Daun Lontar Bentuk fisik pohon lontar tidak jauh berbeda dengaan pohon nyiur/kelapa hanya pada daunnya terdapat sedikit perbedaan. Helai daun lontar tidak tebal. Pada masa lampau daun lontar banyak digunakan untuk menulis cerita cerita dongeng dsb. Sampai pada masa sekarang naskah naskah yang ditulis di atas daun lontar sangat terkenal sampai saat ini masih banyak tulisan yang terdapat dalam daun lontar yang dipelajari isinya karena memang banyak cerita dan pengetahuan sejarah yang dituangkan di atas daun lontar. 4. Mikrofilm atau mikrofis. Bentuk mikro merupakan salah satu media alih bentuk yang banyak digunakan untuk melestarikan kandungan informasi yang terdapat dalam bahan pustaka. Disamping penghematan tempat dan efisiensi penyimpanan. Mikrofilm terdiri dari dasar yang transparan atau film dan lapisan emulsi yang melekat di atasnya. Film transparan yang baik untuk bahan pustaka adalah selulosa asetat maupun asetat campuran. Emulsi terdiri dari suspensi garam perak, dan gelatin yang bahan bahannya begitu halus sehingga mampu memperoleh derajat resolusi dan kontras yang tinggi. Untuk mendapat gambar akhir mikrofilm diperlukan suatu proses yang terdiri dari pengembangan (developer), pemantapan (fixation), pencucian (washing) dan pengeringan. Setiap tahapan pada proses tersebut sangat penting untuk kestabilan hasil mikrofilm. Atas dasar proses tersebut, mikrofilm sangat peka terhadap kerusakan kimiawi maupun kerusakan fisik. Oleh karena itu mikrofilm harus disimpan dalam tempat yang memenuhi syarat, diantaranya terbuat dari logam yang tidak mengandung zat besi atau bahan lain yang tidak menyebabkan karat, oksidasi, atau pencemar lain, terutama yang dihasilkan dari zat belerang untuk tempat penyimpanan. Disamping pengaruh atau faktor lainnya, Jika kardus atau karton kertas yang dipergunakan sebagai media penyimpanan, bahannya harus netral dan bebas dari bahan kayu atau belerang.

BAB III MUSUH MUSUH BAHAN PUSTAKA

Kerusakan bahan pustaka yang terbuat dari bahan organik seperti kertas, naskah naskah lontar, kulit kayu dan bambu dapat terjadi karena beberapa faktor, misalnya pengaruh iklim (suhu kelembaban udara), cahaya, polusi udara, partikel debu, jamur, serangga, dan kesalahan manusia. Diantara faktor faktor tersebut yang cukup berbahaya adalah faktor biota, terutama yang disebabkan oleh aktivitas hidup serangga dan jamur. Jamur dan serangga akan berkembang dengan subur dalam suatu perpustakaan jika tersedia makanan dan didukung oleh suhu kelembaban udara yang sesuai . Oleh sebab itu dalam pembicaraan mengenai kerusakan koleksi bahan pustaka yang disebabkan oleh jamur dan serangga ini, selalu dikaitkan dengan pengaruh suhu dan kelembaban udara, baik terhadap bahan pustaka itu sendiri maupun terhadap pertumbuhan jamur dan serangga. Jamur dan serangga akan berkembang dengan subur pada suhu kelembaban yang tinggi. Sebaliknya serangan jamur dan serangga dapat dihindari apabila kita dapat mengendalikan suhu dan kelembaban udar sampai mencapai keadaan yang ideal bagi bahan pustaka.untuk itu sebelum berbicara tentang kerusakan bahan pustaka karena aktivitas hidup dari jamur dan serangga , terlebih dahulu diuraikan tentang pengaruh suhu udara dan kelembaban udara terhadap bahan pustaka dan pertumbuhan jamur dan serangga serta langkah langkah pengendaliannya. A. Pengaruh suhu dan kelembaban udara Sebenarnya kekuatan kertas tidak akan berkurang oleh perubahan suhu yang tidak begitu ekstrim seperti yang terjadi di indonesia, asalkan kandungan air dalam kertas itu rendah. Suhu udara di Indonesia berkisar antara 2- 35 derajat celsius, perbedaan suhu udara pada siang dan malam hari tidak terlalu besar . Masalahnya timbul karena Indonesia merupakan negara tropis, yang kelembaban udaranya relatif tinggi pada musim hujan. Jika udara lembab kandungan air dalam kertas akan bertambah karena kertas bersifat higroskopis. Perubahan suhu pada saat kertas mengandung banyak air inilah yang menyebabkan perubahan volume dan terjadi ketegangan. Jika kejadian ini berlangsung berulang kali, struktur kertas menjadi lemah karena putusnya rantai ikatan kimia pada polimer selulosa. Hubungan antara suhu dan kelembaban udara ini sangat erat. Apabila suhu udara , kelembaban udarapun turut berubah. Jika suhu udara naik maka kelembaban udara akan turun, dan air yang ada dalam kertas dilepas sehingga kertas menjadi kering dan volumenya menyusut. Pada saat inilah terjadi ketegangan karena molekul molekul selulosa asing saling tarik menarik pada proses penyusutan ini. Sebaliknya jika suhu udara menurun , kelembaban udara naik. Pada saat ini kertas menyerap uap air yang ada dalam udara, menyebabkan kandungan air dalam kertas bertambah. Sebagai akibatnya volume kertas memuai dan serat kertas menjadi kendur. Akibat lain dari pengaruh udara lembab kertas menjadi busuk, berbau apek dan memberi peluang pada jamur untuk tumbuh dan berkembang. Spora jamur dapat berkembang dalam berbagai tingkat jika kelembaban udara di atas 70% RH. Pada musim hujan biasanya kelembaban udara lebih tinggi dibandingkan dengan musim panas, terutama dalam ruangan yang ventilasinya kurang baik. Udara lembab yang dibarengi dengan suhu udara yang tinggi menyebabkan asam yang ada pada kertas terhidrolisa sehingga dapat memutuskan rantai ikatan kimia polimer selulosa. Partikel besi yang ada pada kertas dapat bereakssi dengan asam atau teroksidasi menimbulkan warna coklat pada kertas. Untuk suatu perpustakaan , suhu dan kelembaban udara yang baik adalah kelembaban antara 45 – 60 % RH , sedangkan suhu udara antara 20 – 24 derajat celsius. Mencegah kerusakan karena pengaruh Suhu dan Kelembaban Udara. Untuk suatu perpustakaan kelembaban dan suhu udara yang ideal adalah antara 45 – 60 % RH dan 20 – 24 derajat Celsius. Satu satunya cara untuk mendapatkan kondisi seperti ini adalah menggunakan sistem pendingin AC terpusat. Masalahnya timbul karena tidak semua perpustakaan mampu memasang AC terpusat karena biaya operasionalnya mahal. Yang harus diperhatikan oleh perpustakaan yang mampu memasang AC sentral adalah AC harus berfungsi terus menerus selama 24 jam sehari. Jika difungsikan hanya setengah hari saja (siang hari dihidupkan dan malam hari dimatikan)., maka kelembaban udara dalam ruangan akan berubah-ubah. Kondisi seperti ini mempercepat kerusakan kertas. Perbedaan kelembaban udara (fluktuasi) pada suatu saat, umpamanya setelah AC dimatikan tidak boleh melebihi batas maksimum dari kondisi yang diizinkan untuk kertas yaitu 45-60 RH. Umpamanya pada saat AC dihidupkan, tempratur dan kelembaban udara bisa mencapai 20 derajat celsius dan 60 % RH, setelah AC dimatikan suhu udara bisa berubah menjadi 30 derajat celcius. Perubahan suhu yang drastis seperi ini menyebabkan kelembaban udara berubah secara drastis pula. Menurut penelitian para ahli , berat uap air maksimum yang dapat dikandung oleh udara pada 20 derajat celscius = 18 gr, sedangkan pada 30 derajat celcius = 31 gr. Jadi berat uap air pada 20 derajat celsicius = 60/100 x 18 gr = 10,8 gr. Pada saat tempratur udara dalam ruangan berubah menjadi 30 derajat celsius , kandungan uap air adalah tetap 10,8 gr sehingga kelembaban udara menjadi 10,8/31 x 100% = 35% Kelembaban udara yang demikian ini akan berbahaya sekali bagi keselamatan kertas, udara terlalu kering menyebabkan kertas menjadi mudah patah. Udara dalam ruangan akan berubah menjadi basah kalau udara didinginkan. Umpamanya kondisi dalam ruangan sebelum AC dihidupkan adalah 30 derajat celsius dan 60% RH , dengan demikian kandungan uap air adalah 60/100 x 31 gr = 18,6 gram. Setelah AC dihidupkan tempratur dapat berubah menjadi 20 derajat celcius, sedangkan kandungan uap air tetap 18,6 gr. Jadi kelembaban udara sekarang menjadi 18,6/18 x 100% = dengan 0,6 gr mengembun. Keadaan seperti ini akan berbahaya sekali bagi kertas karena jamur dapat tumbuh dan air yang mengembun dapat menyebabkan noda pada kertas kotor karena debu. Untuk mengurangi kelembaban udara dalam ruangan , digunakan alat penghisap kelembaban (dehumidifier). Alat ini dapat menyerap uap air dari udara. Dalam menggunakan alat ini ruangan harsu selalu tertutup dan dehumidifier harus dipasang di luar ruangan karena alat ini mengeluarkan panas yang berbahaya bagi kertas. Untuk mengurangi kelembaban udara dalam lemari buku atau vitrin , dapat digunakan silica gel. Bahan ini dapat menyerap uap air dari udara. Warnanya biru kalau masih aktif menyerap uap air dan merah muda kalau sudah jenuh dengan uap air. Kalau sudah jenuh dengan uap air maka silica gel ini tidak dapat lagi menyerap uap air . Oleh sebab itu harus diaktifkan kembali dengan jalan dipanaskan atau disangan. Alat yang dapat digunakan untuk mengukur tempratur dan kelembaban udara adalah Thermo-hygrometer, psychometer, thermoygrograph, sling psychorometer atau whirling psychorometer. Suatu perpustakaan sekurang kurangnya harus mempunyai 3 thermohygrometer ; Thermogygraph untuk mengukur kelembaban udara, Psychrometer atau sling psychometer untuk kalibrasi, ini penting untuk mendapatkan pengukuran yang tepat. B. Kerusakan karena jamur dan serangga Kerusakan bahan pustka oleh jamur dan serangga ini pada umumnya dialami oelh negara negara tropis dan sub tropis seperti Indonesia, Malaysia, , India, Thailand dan negara negara dilautan fasifilk. Hal ini terjadi karena populasi dan spesies dari serangga dan jamur di negara2 tersebut sangat banyak serta berkembang biak nya sangat cepat. Oleh karena itu pustaakawan2 di negara negara tersebut harus melindungi bahan pustaka dari serangga dan jamur ini agar koleksinya tetap lestari. Kerusakan bahan pustaka oleh faktor ini adalah sebagai akibat dari aktivitas hidup dari jamur dan serangga. Beberapa spesies dari jamur akan tumbuh pada permukaan kertas dan akan mengeluarkan zat semacam asam yang dapat menimbulkan noda dan menyebabkan kertas menjadi rapuh. Serangga akan memakan kertas dan komponen lain pada buku, yang menyebabkan buku berlubang lubang dan jilidan buku akan terlepas. Indonesia memiliki musim hujan dan musim panas dalam satu tahun dengan tempratur dapat mencapai 32-34 derajat celsius pada sebagaian besar kota kota di Indonesia. Dan kelembaban udara lebih sering berada di atas 70% RH. Kondisi seperti ini sangat menguntungkan bagi ttumbuhnya jamur dan serangga sehingga akan menimbulkan masalah bagi bahan pustaka jika tidak dilakukan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan ini lebih diutamakan dalam upaya melestarikan bahan pustaka. Meskipun pada saat mengobati dan memperbaaiki bahan pustaka dilakukan sebaik mungkin , bekas perbaikan itu tetap akan kelihatan. Jika kita telah melakukan pemeliharaan terhadap bahan pustaka dengan maksud mencegah terjadinya kerusakan, kondisi koleksi akan terpelihara, hanya dalam pemeliharaan ini memerlukan ketelitian dan kesabaran serta dilakukan secara teratur. Pemeliharaan bahqn pustaka meliputi pengendalian kelembaban udara, membatasi intensitas cahaya dan kandungan ultraviolet dalam cahaya dalam ruang perpustakaan, melindungi bahan pustaka dari debu, serta mencegah tumbuh dan berkembangnya jamur dan serangga. Jika bahan pustaka telah diserang oleh jamur dan serangga , perlu dilakukan fumigasi untuk mematikan jamur dan serangga tersebut. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan yang teliti untuk memastikan bahwa bahan pustaka tersebut telah dimasuki oleh serangga dan jamur. Idenifikasi serangga relatif lebih mudah jika dibandingkan dengan identifikasi jamur , identifikasi jamur harus dilakukan di bawah mikroskop. Dibawah ini akan diuraikan jenis serangga dan jamur yang merusak bahan pustaka, yaitu sebagai berikut : 1. Jamur (Fungi ) Jamur atau kapang adalah tumbuhan yang tidak mempunyai chorolophyl. Jamur itu mengambil makanan dari makhluk lain sebagai parasit atau mengambil makanan dari bahan organik mati sebagai sapropit. Jamur merupakan penyebab kerusakan yang cukup serius pada kertas karena dapat menyebabkan kertas menjadi rapuh dan warnanya berubah. Jamur akan tumbuh pada permukaan kertas dan kulit, akarnya akan mengeluarkan enzim yang dapat larut dalam selulosa. Enzim ini dapat menghidorlisa rantai panjang polimer selulosa menjadi fraksi fraksi yang lebih kecil. Jamur dapat memproduksi beberapa asam organik, seperti asam oksalat, asam fumorik, dan asam sitrat yang menyebabkan asam menjadi asam dan rapuh. Pada tempat tumbuhnya jamur ini biasanya akan timbul noda yang sangat sukar dihilangkan. Noda Merah kecoklatan pada kertas yang disebut foxing, adalah oksida besi atau besi hidroksida . Besi hidroksida terbentuk dari reaksi kimia antara partikel besi yang terkandung dalam kertas dengan asam organik yang dihasilkan oleh jamur. Berdasarkan hasil penelitian orang, dikethui bahwa jamur Aspergillus Dan Penicillium yang banyak ditemukan dalam bahan pustaka yang terbuat dari kertas. Aspergillus Fumigaatus merupakan jamur perusak kertas yang paling sering ditemukan. Jamur ini dapat hidup dan berkembang pada kertas serta mewarnai kertas, mula mula abu abu, kemudian hijau, dan akhirnya coklat pudar. Jamur ini selain merusak kertas , juga merupakan penyebab penyakit aspergillosis pada manusia. Aspergillus flavus juga merupakan perusak kertas karena jamur ini mempunyai enzim yang mampu mengurai selulosa walaupun tidak seaktif jamur pengurai selulosa lainnya. Jamur ini dapat menghasilkan toksin aflatksin yang berbahaya bagi manusia Aspergillus niger hidup pada kertas dengan menghasilkan warna hitam dan menghasilkan enzim yang dapat mengurai selulosa dan bersifat patogen terhadap manusia. Penicillium citrunum ditemukan pada kertas yang tellah berbau karena lama berada dalam udara lembab. Penicillium variable yang dapat menghasilkan enzim pengurai selulosa. Trichoderma pseudokoningii yang hidup pada kertas berupa koloni hijau tua. 2. Serangga Ikan perak (silvervish) ialah binatang yang terdiri dari beberapa spesies , tetapi yang umum terdapat dalam bahan pustaka adalah Lapisma Saccharina L. Dan Thermobia Aegyptiaca. Oleh karena serangga ini berbentuk kerucut seperti ikan dan berwarna perak kelabu, serangga itu dinamakan silverfish. Serangga ini tidak bersayap , serangga muda mirip dengan serangga dewasa. Panjang serangga dewasa kira – kira 12 mm. Mereka terdapat dimana-mana dalam gedung, senang hidup di tempat gelap dan lembab di belakang buku, rak, laci, lemari dan di celah celah jilidan. Mereka berkembang biak dengan cepat sekali. Serangga ini memakan kertas dan perekat sehingga merusak jilidan dan sampul buku. 3. Kutu Buku ( Book worm ) Serangga ini sangat rakus sehingga memakan hampir semua materil yang ada pada buku. Mereka bertelur pada permukaan kertas atau disela sela kertas jahitan dan menghasilkan larva yang sangat berbahaya bagi buku karena larva ini dapat mengeluarkan zat bergetah yang melengketkan lembaran2 kertas satu sama lain. Kerusakan yang ditimbulkan oleh larva ini adalah buku menjadi berlubang lubang. Larva memakan kertas pada waktu mencari jalan keluar, sehingga jalan yang dibuatnya menyerupai terowongan. 4. Booklice Serangga ini kadang kadang dicampuradukkan dengan kutu buku . Berukuran sangat kecil, berwarna abu abu atau putih pucat, badannya lunak dan kepalanya relatif besar sertaa giginya sangat kuaat. Serangga ini jarang ditemukan pada buku buku yang sering digunakan dan baru akan kelihatan kalau populasinya sangat banyak. Mereka memakan permukaan kertas dan perekat . Karena ukurannya kecil, kerusakan yang ditimbulkan relatif kecil. Telurnya diletakkan di dalam punggung buku. Bentuk larva dan serangga dewasa sukar dibedakan, kecuali yang dewasa berwarna lebih terang. Species yang paling umum adalah Lipocelis divinatorius. 5. Kecoa ( Cockroach ) Kecoa yang sudah dikenal terdiri dari kecoa oriental ( Stylopyga Blatta Orientalis ), Kecoa Jerman ( Phyllodlattaromia Germanica ) dan kecoa amerika (Periplaneta Americana). Serangga ini merupakan hama rumah tangga , warnanya coklat seperti kayu mahoni atau coklat kehitaman dan berbau busuk. Tubuhnya mengkilat, pipih, kurang lebih oval. Mereka mencari makan pada malam hari dan memakan bahan bahan yang ada pada buku terutama sampul dan perekat. Mereka mengeluarkan kotoran yang keehitaman dan kotoran ini dapat menimbulkan noda yang sukar dihilangkan. 6. Rayap (Termite) Rayap merupakan serangga perusak yang paling berbahaya karena dapat menghabiskan kertas dalam waktu singkat. Serangga ini termasuk kelompok penghuni sementara dan dapat merusak bagian bagian bangunan yang terbuat dari kayu seperti tiang, kusen, rak serta dokumen dan buku di dalamnya. Hidup di daerah tropis/subtropis berbadan lunak dan berwarna puttih pucat. Karena bentuknya seperti semut , binatang ini disebut semut putih (white ant). Ada dua tipe rayap, yaaitu rayap kering yang hidup dalam kayu dalam tanah. Mereka hidup berkelompok dalam koloni yang terorganisasi dengan rapi. Rayap subteranian membuat sarang dalam tanah dan akan keluar di atas permukaan tanah untuk mencari maakan melaalui jalan yang merekaa buat , kadang kadang daapat menembus dinding atau lantai bangunan. Mencegah kerusakan kertas karena jamur dan serangga Tindakan preventif untuk mencegah tumbuhnya jamur dan berkembang biaknya insek adalah memeriksa kertas dan buku secara berkala, membersihkan tempat penyimpanan, menurunkan kelembaban udara dan buku buku tidak boleh disusun terlalu rapat pada rak rak karena menghalangi sirkulasi udara. Untuk mencegah menularnya jamur atau serangga yang datang dari luar, sebaiknya buku buku yang baru dibeli atau diterima dari pihak lain difumigasi terlebih dahulu sebelum disimpan bersama sama dengan buku buku yang lainnya. Pada rak rak buku diletakkan bahan yang berbau seperti kamper , naptalin , paradichlorobenzena, campuran choloroform, paradichlorobenzena dan naptalin (CCN), atau campuran para dichlorobenzena , benzena dan creosote (PBC) untuk mengusir serangga. Semua bahan ini menguap perlahan lahan dan mengeluarkan bau yang tidak disukai oleh insek. Untuk mencegah tumbuhnya jamur , pada sela sela kertas diselipkan kertas tisu yang seebelumnya sudah dicelupkan dalam larutan fungisida seperti lin dan thymol. Tindakan ini sebaiknya dilakukan pada musim hujan karena kelembaban udaranya relatif tinggi. Rak rak harus dibuat dari bahan yang tidak disukai oleh serangga seperti kayu jati atau logam. Selain itu lantai bangunan harus diberi bahan anti rayap seperti chlrodane atau DDT. Bahan bahan ini disuntikkan ke dalam lantai dasar bangunan dengan jarak 1 meter tiap lubang suntikan. Berdasarkan perkembangan terakhir , chlorodane tidak dibenarkan lagi penggunaanya.

BAB IV FUMIGASI BAHAN PUSTAKA

Koleksi bahan pustaka yang merupakan benda benda organik yang mendapat gangguan dari musuh musuh atau faktor perusak, khususnya jamur dan serangga dapat diobati atau dicegah dengan cara Fumigasi A. Pengertian Fumigasi berasal dari kata fumigare yang berarti kurang lebih sama dengan mengasap atau pengasapan diawali bekerjanya dengan membakar atau menguapkan zat kimia yang mengandung racun . Fumigasi atau pengasapan merupakan pengalaman atau suatu cara yang sudah dilakukan oleh manusia dalam mengatasi adanya gangguan dari serangga, kuman, pes, dsb. Pada abad XII SM manusia telah menemukan cara untuk membasmi atau mengusir serangga, kuman, pes dan sejenisnya. Mereka menggunakan pengasapan atau Fumigasi. Bahan kimia yang digunakan atau dikenal pada waktu itu adalah sulfur atau belerang. Mereka membakar belerang dengan maksud untuk memperoleh sejumlah asap yang cukup guna mengusir atau mematikan serangga, dan sejenisnya. Dengan demikian dapat dimaklumi bahwa cara melakukan fumigasi sesungguhnya sudah dikenal banyak negara pada masa itu. Hanya penggunaan bahan kimianya masih sangat sederhana dan terbatas. Untuk itu pengetian fumigasi secara sederhana dapat dikatakan merupakan pengasapan untuk membunuh jamur dan serangga dengan mempergunakan uap atau gas beracun yang dapat disebut dengan fumigan. Fumigan adalah senyawa kimia yang pada tempratur dan tekanan tertentu berbntuk gas dan konsentrasi tertentu dapat membunuh serangga dan jamur. Fumigasi dapat membunh seragga melalui sistem pernapasan. Dengan demikian , daya kerjanya sangat tergantung dari aktivitas pernafasan serangga tersebut. Oleh karena itu , keadaan yang paling baik bagi kerja fumigan adalah pada waktu serngga mempunyai aktivitas pernafasan paling tinggi atau pada stadium dewasa. B. Pengamatan Kondisi Bahan Pustaka. Sebelum melakukan kegiatan fumigasi untuk membasmi serangga dan jamur perlu dilakukan pengamatan secara teliti `kondisi bahan pustaka, apakah telah diserang serngga dan jamur ataau tidak. Pengamatan kondisi bahan pustaka ini mutlak perlu karena dalam jangka waktu tertentu bahan pustaka ini kemungkinan dapat diserang oleh serangga dan jamur mengingat populasi mereka yang cukup besar di daerah tropis. Dalam mengamati kondisi bahan pustaka ini , kita perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang tanda tanda kerusakan yang terjadi, baik kerusakan yang disebabkan oleh faktor kimia , fisika, maupun biota. Dalam hubungannya dengan pekerjaan fumigasi , pengetahuan tentang tanda tanda kerusakan yang disebabkan oleh serangga dan jamur sangat diperlukan untuk menentukan langkah langkah pembasmian yang efektif agar menghemat pemakaian bahan dan tenaga. Teknik pengamatan untuk mengetahui tingkat kondisi bahan pustaka dapat dilakukan secara visual , baik dengan mata telanjang maupun dengan mikroskop serta analisis mikrobiologi untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dan jenis jamur. Dari daftar serangga dan jamur yang tersebut di atas , tidak semua tingkat umur serangga dapat merusak bahan pustaka , tetapi hanya pada batas umur tertentu . Tingkat umur serangga dan kerusakan yang terjadi dapat dilihat dalam tabel di bawah ini : Jenis Serangga Yang aktif Merusak Bentuk Kerusakan 1. Silverfish muda/dan dewasa Permukaan buku, Kertas dan dokumen rusak, memakan perekat pada punggug buku 2. Bookworm Larvanya Buku menjadi Berlubang 3. Booklice Yang dewasa Merusak permukaan Dan Kulit 4. Kecoa Muda/dewasa Merusak kertas dan menimbulkan noda 5. Rayap Yang dewasa Merusak kayu bangunan dan buku 6. Jamur - Merusak kayu bangunan dan buku, menghancurkan kertas dan timbul noda C. Bahan Kimia sebagai Fumigan Daftar di bawah ini terdiri dari enam macam bahan yang sering digunakan di Indonesia sebagai Fumigan. Bahan tersebut diurut menurut abjad pada huruf awal, yaitu : Carbon disulfide Carbon tetrachloride Formaldehide Methylbromide Phosphine dan Tymol Crystal. Daftar nama bahan ini akan dilengkapi dengan data bahan tersebut seperi sifatnya (wujud, warna, dan bau), nilai ambang batas (TLV, TWA, dan STEL), efek pada kesehatan (kulit, mata, dan pernafasan) pertolongan pertama pada kecelakaan yang disebabkan oleh tiap tiap bahan serta tindakan pencegahannya. Nilai ambang batas atau nilai ambang bahaya yang dlm bahasa inggrisnya Threshold Limit Value (TLV) terdiri dari dua pengertian, yaitu Threshold Limit Value Time Weighted Averages (TLV-TWA) dan Threshold Limit Value Short Term Exposure Limit (TLV-STEL. TLV TWA adalah konsentrasi dari bahan kimia dalam udara yang pada umumnya orang (pekerja) tidak mengalami gangguan selama delapan jam sehari dan lima hari dalam seminggu selama bekerja dengan bahan tersebut. Konsentrasi bahan ini diukur dalam ppm (bagian dari gas/uap persejuta bagian dari udara yang tercemar pada suhu 25 derajat celsius dan tekanan 1 atm) atau miligram permeter kubik udara. Dari daftar ini dapat diperkirakan tingkat bahaya dari tiap tiap bahan kimia. TLV-STEL adalah konsentrasi maksimum yang dapat diterima oleh seseorang (pekerja) selama 15 menit secara terus menerus tanpa mendapat gangguan jika pekerja, mendapat lebih dari konsentrasi yang ditentukan maka akan mendapat gangguan kesehatan. Di bawah ini diuraikan keenam macam bahan kimia yang biasa digunakan sebagai insektisida dan fungisida dalam fumigasi lengkap dengan data data sifat dan nilai ambang batasnya agar dalam penggunaanya kita berhati hati untuk mencegah adanya kecelakaan yang tidak diinginkan. a. Carbon Disulfide CS Bahan ini berupa cairan yang tidak berwarna atau agak kecoklatan, berbau menyengat seperti telor busuk TLV : 10 PPM, 30 mg/m3 untuk kulit Pengaruh Pada Kesehatan : 1. Kontak pada mata : cairan CS atau uapnya dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada mata 2. Kontak dengan kulit : menyebabkan sakit kulit baik yang disebabkan oleh cairan maupun oleh uapnya. Jika cairan tertumpah pada pakaian yang sedang dikenakan akan menyebabkan luka bakar pada kulit di daerah itu dan jika terserap lebih lanjut akan dapat membahayakan bagian yang lebih dalam. 3. Pernafasan : Cairan dan uap CS yang terserap melalui pernafasan dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, muntah muntah, susah bernafas, dll. Secara kronis mempunyai akibat pada sistem syaraf yang menyebabkan orang suka nervous, depresi, menderita penyakit hati, jantung dan perut. Yang kena mata, cepat cepat dibasuh dengan air dan usahakan secepatnya mendapat pertolongan dokter. Jika kulit kena cairan CS , pada bagian tersebut harus dicuci dengan sabun, lepaskan pakaian terkena cairan dan cepat cepat dibawa ke dokter. Jika uap CS masuk melalui pernafasan , pindahkan korban ke ruangan yang berudara segar dan istirahat. Jika mengalami susah bernafas , beri oksigen dan jika pernafasan terhenti , beri pernafasan buatan dan usahakan secepatnya mendapat pertolongan dokter. Tindakan pencegahan Hindari kontak dengan cairan atau uap CS, Kaca mata pelindung, masker gas, jas laboratorium. Jas dan sarung tangan harus dikenakan pada saat bekerja dengan bahan ini. Jika konsentrasi kuat CS berada di atas yang diijinkan , diperlukan masker gas dan kipas penghampa udaara (exhaust fan). b. Carbon Tetra Chloride CCL Bahan kimia ini merupakan cairan yang tidak berwarna dan berbau spesifik. Nilai ambang bahaya berada 5 ppm , 30 mg/m3 bagi kulit (TWA) dan 20 ppm, 125 mg/m3 (STEL) Pengaruh pada Kesehatan. Kontak dengan mata : Cairan CCL yang mengenai mata akan menyebabkan luka bakar dan menimbulkan kerusakan pada mata. Kontak dengan kulit : kontak yang lama akan menyebabkan luka bakar. Pernafasan : dapat menyebabkan penyakit suka mengantuk, pusing-pusing. Jika terlalu sering menghirup uap CCL dapat menyebabkan sakit lever, jantung dan ginjal. Pertolongan pertama pada kecelakaan Jika kena mata , basuhlah dengan air banyak banyak dan jika kena kulit cucilah dengan sabun, lepaskan baju yang kena cairan tersebut dan bawa korban ke dokter. Jika terisap melalui pernafasan , pindahkan korban ke ruangan yang berudara segar, beri oksigen dan jika pernafasannya terhenti, berilah pernafasan buatan, setelah itu bawalah ke dokter. Tindakan pencegahan Hindari kontak dengan cairan ini . Kipas penghampa udara mutlak diperlukan jika bekeja dengan bahan ini dan pakailah kaca mata pelindung , lab jas dan sarung tangan jika bekerja dengan bahan ini. C. Formaldehyde HCHO Bahan ini tidak berwarna , umumnya berupa larutan 37 -50% dalam air dan 6 – 15% methanol sebagai inhibitor polimerisasi. Berbau tajam (keras) Tidak ada data tentang TLV Pengaruh terhadap kesehatan Kontak dengan mata : larutan fomalin dapat menyebabkan luka bakar dan kerusakan pada mata. Kontak dengan kulit ; dapat menimbulkan kerusakan dan alergi pada kulit. Kontak yang terlalu laama akan menyebabkan kuku bersisik dan getas dan terjadi radang pada kuku. Uap formalin lebih berbahaya dari pada larutannya. Pernafasan : dapat terjadi gangguan pada saluran pernafasan. Gass dapat merembes kedalam paru paru dan menyebabkan radang tenggorokan , dapat menimbulkan perut kembung dan terjadinya pneukimia. Menghisap uap formalin dapat menyebabkan pilek, batuk, sakit kepala dan terganggu tidur. Pertolongan Pertama pada kecelakaan Bahan yang terkena cairan formalin dibasuh dengan air bila terdapat gangguan setelah dibersihkan dengan air , yang bersangkutan harus cepat cepat dibawa ke dokter. Suhu badan usahakan tetap hangat dan istirahatkan pasein. Tindakan peencegahan Hindarkan kontak dengan uap dan cairan formalin. Gunakan bahan ini di dalam ruangan yang mempunyai kipas. Pakailah kaus tangan , jas laboratorium dan kaca mata pelindung jika bekerja dengan formalin dengan konsentrasi yang tinggi. Kontak lensa tidak boleh dipakai pada waktu bekerja dengan bahan ini. Bekerjalah dalam konsentrasi lebih rendah dari TLV. D. Methyl Bromide CH Br Bahan ini berupa gas pada tempratur dan tekanan ruangan , tidak berwarna. Tidak berbau pada konsentrasi rendah dan berbau seperti Chloroform pada konsentrasi yang tinggi. Pada TLV tidak berbau. TLV-TWA 5 ppm, 20 mg/m3 (bagi kulit) TLV-STEL 1 ppm , 60 mg/m3 (bagi kulit) Pengaruh terhadap Kesehatan Kontak dengan mata : jika cairan dan gas methyl bromide terkena mata akan menimbulkan luka dan kerusakan pada mata. Kontak dengan kulit : menyebabkan kulit menjadi kering, bersisik, gatal gatal dan dermatitis. Pernapasan : menyebabkan sakit kepala , pusing pusing, mual, muntah muntah, kabur penglihatan, . Dapat juga sakit paru paru disertai batuk batuk, dada sakit , dan pendek pernafasan. Konsentrasi Methyl bromide yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kematian. Berada dalam udara yang tercemar methyl bromide yang terlalu lama atau berulang ulang menghisap gas methyl bromide dapat merusak sistem saraf. Pertolongan pertama pada kecelakaan Bagian mata yang terkena methyl bromide harus dibilas dengan air yang banyak dan segera dibawa ke dokter. Kulit yang terkena methylbromide harus disiram dengan air. Jika masih terjadi gangguan setelah disiram dengan air, yang bersangkutan segera bawa ke dokter. Tindakan pencegahan Hindari kontak dengan cairan atau gas methyl bromide , pakailah kaca mata pelindung, sarung tangan dan jas laboratorium bekerja dengan bahan ini. Bibawah ini konsentrasi 200 ppm harus memakai masker gas . Kontak lensa tidak boleh dipakai selama bekerja dengan bahan ini. E. Phosphine Phosphine di formulasikan dalam bentuk berupa tablet/pelet, kelereng, atau tepung yang dibungkus dlam kantong khusus. yang berbentuk tablet/pelet dan kelereng merek phostoxin, gastoxin, dan gas-Ex B mengandung aluminium phosphine. Yang berbentuk tepung dengan merk Delicia dan Gas Ex-B juga mengandung phosphine. Gas phospine tidak berwarna dan mempunyai bau khas seperti bawang putih atau karbit. Terbakar pada tempratur 100 derajat celsius dan dapat meledak jika konsentrasinya melebihi 23 gram /m3 udara . bahan ini sangat beracun bagi manusia dengan TLV 0,3 ppm. F. Tymol C H O. Thymol C10H14O merupakan bahan yang tidak berwarna , berbentuk kristal dan berbau harum. Bahan ini belum mempunyai data tentang ambang bahaya. Pengaruh terhadap kesehatan manusia. Kontak dengan mata : jika cairan thymol mengenai mata dapat menyebabkan kerusakan , sedangkan jika terkena kulit akan menimbulkan reaksi alergi. Pertolongan pertama pada kecelakaan Jika terjadi kontak dengan mata basuh dengan air sebanyak banyaknya, demikian juga jika terkena kulit. Jika terjadi keracunan lewat pernapasan, pindahkan orang tersebut ke dalam ruangan yang berudara segar. Jika yang bersangkutan sulit bernaafas , berilaah oksigen dan jika pernafasan berhenti harus diberi pernaafasan buatan dan larikan ke dokter. Tindakan pencegahan Hindari kontak dengan thymol padat, uap atau cairan. Jika bekerja dengan uap thymol dalam konsentrasi tinggi, gunakan kipas penghampa udara dan pemakaian masker gas. Sarung tangan harus dipakai jika memegang bahan ini dan tidak boleh memakai kontak lensa.

BAB V PETUNJUK PRAKTIS

Dalam pelaksanaan fumigasi bahan pustaka yang terbuat dari kertas, daun lontar, kulit kayu dan bambu perlu diperhatikan hal hal sebagai berikut. A. Ruang Fumigasi. Tempat untuk melakukan fumigasi bahan pustaka dapat dilakukan di ruang perpustakaan, ruang deposit dan gudang atau dilakukan di ruangan yang disediakan khusus sebagai ruang fumigasi. Uraian tentang jenis ruang untuk melakukan fumigasi adalah sbb : 1. Fumigasi dalam ruang perpustakaan, ruang deposit dan gudang fumigasi dapat dilakukan dlm ruangan ruangan tersebut karena pertimbangan bahwa koleksi dlm ruangan tersebut cukup banyak, kondisi koleksi cukup parah sehingga menyulitkaan petugas kalau dibawa ke ruangan lain serta ruangan telah terjangkit oleh serangga dan jaamur. Fumigasi harus dilakukan dlm ruangan2 tersebut agar bahan pustaka dan ruangan steril dari serangga dan jamur. Jika fumigasi dilakukan dalam ruangan tersebut, plafon, jendela, daun pintu, dan lubang angin harus ditutup rapat (kedap udara). Agar fumigan tidak mengganggu lingkungan. Untuk membuat agar suatu ruangan menjadi kedap udara, pintu, jendela, dan lubang angin harus ditutup dengan lembar plastik (plastic sheet), dengan bantuan lack band. Dengen demikian , gas beracun dalam ruangan yang difumigasi tidak membahayakan personil yang berada dalam ruangan lain. 2. Ruang Fumigasi Khusus Ruang fumigasi adalah ruangan permanen yang dirancang khusus untuk melakukan fumigasi bahan pustaka yang diduga telah diserang oleh serangga dan jamur. Bahan pustaka yang akan difumigasi harus dibawa ke ruangan tersebut. Tidak ada standar ukuran yang menentukan berapa luas ruangan ini. Akan tetapi tinggi tembok bangunan tidak boleh lebih dari 2 meter karena pada umumnya gas beracun yang akan digunakan sebagai fumigan lebih berat dari pada udara dan beredar di udara mencapai ketinggian 2 meter. Luas lantai bangunan dapat bervariasi , antara 2 x 2 m, 3 x 3 m, atau 4 x 4 m disesuaikan dengan volume bahan pustaka yang akan difumigasi. Konstruksi ruangan fumigasi ini harus dibuat sedemikiaan rupa sehingga pada saat fumigasi dilakukan , gas beracun yang ada di dalamnya tidak dapat keluar. Di dalam ruangan fumigasi ini dipasang rak rak yang terbuat dari kayu jati atau aluminium untuk menyusun bahan pustaka yang akan difumigasi dan dua perangkat alat peniup pada sudut sudut bagian belakang masing masing dihubungkan dengan cerobong untuk mengeluarkan gas beracun dan memasukkan udara bersih apabila fumigasi telah selesai. Konstruksi ruaangan dan pintu ruangan fumigasi serta peralatan yang diperlukan dapat dilihat pada gambar di bawah ini. 3. Lemari Fumigasi. Lemari fumigasi dibuat untuk melakukan fumigasi bahan pustaka dlm jumlah sedikit/kecil. Haal ini dilakukan dengan pertimbangan sbb : a. Bahan pustaka terlalu sedikit , umpamanya bahan pustaka yang baru masuk atau hanya sebagian kecil dari bahan pustaka yang ada telah diserang serangga dan jamur b. Untuk menghemat pemakaian fumigan karena jika dilakukan dalam ruang fumigasi akan menghabiskan fumigan dengan dosis tertentu untuk dapat membunuh serangga dan jamur. Makin kecil ruangan yang kita pakai, makin sedikit fumigan yang diperlukan. Konsentrasi ruangan dibuat sedemikian rupa sehingga sambungan antara kayu /papan tidak memungkinkan gas beracun dapat keluar pada saat fumigasi sedang dilaksanakan. Demikian pula konstruksi pintu harus dibuat khusus yang biasanya pada daun pintu dipasang karet penyekat untuk menghindari agar gas tidak dapat keluar. B. Keselamatan Kerja. Fumigan adalah bahan yang beracun bagi serangga dan manusia. Dari sifat sifatnya yang mudah menguap, mudah merembes dan beracun jika tidak hati hati dalam mempersiapkan pekerjaan , selama melakukan fumigasi dan sesudahnya , akan berbahaya bagi kesehatan manusia. Oleh sebab itu seseorang yang bekerja dengan fumigan harus mempunyai pengetahuan tentang sifat sifat fumigan ini dan harus berhati hati dalam menggunakan bahan tersebut. Tindakan pencegahan terhadap keecelakaan karena keracunan bahan kimia dilakukan sebelum bekerja dengan bahan terseebut, selama jangka waktu pengasapan (eradikasi) dan sesudah fumigasi. 1. Sebelum pekerjaan dimulai. Dalam melakukan fumigasi apapun , baik fumigasi dalam jumlah kecil maupun besar, tidak dibenarkan melakukan fumigasi seorang diri sebab keracunan gas beresiko tinggi. Jika seseorang menjadi sakit atau pingsan tidak ada orang yang dapat menghentikan aliran gas atau menghentikan pekerjaan fumigasi. Berapa besarnya suatu pekerjaan tidak menjadi masalah , tetapi yang diperlukan adalah harus ada orang yang menemani untuk menjaga kemungkinan yang terjadi. 2. Selama memasukkan Gas Selain harus menggunakan masker gas, ketelitian dalam melepaskan gas atau menuangkan cairan harus diperhatikan agar fumigan tidak mengenai anggota badan. Jika pakaaian terkena fumigan, pakaian harus cepat cepat dilepas dan bagian yang terkena harus diccuci dengan air sabun. 3. Selama Pengasapan (eradiksi) Setiap tindakan pencegahan harus dilakukan agar gas atau uap fumigan tidak keluar dari ruangan selama pengasapan . Hal ini dapat dicek dengan detektor atau mencium bau fumigan tersebut. Papan peringatan harus dipasang agar orang tidak mendekat atau berlama lama di dekat ruaangan fumigasi. Pada papan peringatan tersebut harus disebutkan jenis fumigan dan tanggal mulai fumigasi. Papan ini harus ditanggalkan setelah selesai fumigasi. 4. Setelah selesi fumigasi. Setelah selesai pengasapan, harus diperiksa apakah gas/uap fumigan masih ada. Tiap fumigan mempunyai daya rembes yang berbeda, tergantung dari jenis bahan yang difumigasi dan lingkungan. Oleh sebab itu setelah selesai gas/uap fumigan harus benar benar bebas dari bahan pustaka. Peralatan Keselamatan Kerja. Orang yang melaksanakan fumigasi harus memakai pakaian pelindung untuk menghindari kecelakaan yang mungkin terjadi. Jika bahan yang digunakan dapat membahayakan lingkungan , yang melaksanakan fumigasi harus menjelaskan kepada orang orang akan bahaya yang terjadi bila terkena aatau mengisap bahan tersebut. Orang melakukan fumigasi ini harus memakai pakaian atau peralatan yang sesuai dengan jenis fumigan yang digunakan. Pengetahuan tentang bahan, informasi pada label dan cara cara membawa bahan tersebut sangat membantu dalam hal keselamatan kerja. Mengenaakan pakaian dan alat pelindung yang kotor dapat menyebabkan keracunan. Oleeh sebab itu orang yang melakukan fumigasi ini harus memakai pakaian dan peralatan yang benar benar bersih dan alat ini harus selalu tersedia Alat alat dasar yaang harus selalu tersedia dalam pekerjaan fumigasi adalah ; a. Peralatan P3K Peralatan dan bahan untuk melakukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan harus tersedia selama peekerjaan dilakukan. Peralatan ini terdiri dari kotak P3K yang berisi cairan pencuci mata, obat merah , pembalut streel, obat pusing dll. Disamping itu disediakan pula tabung oksigen dan ruangan bersih yang terisolir dari ruangan fumigasi b. Pakaian Kerja (Overall) Model ini seperti ppakaian bengkel yang berlengan panjang yang dikenakan di luar pakaian biasa (pakaian kerja kantor). Pakaian ini sekali dipakai harus langsung dicuci karena biasanya sudah terkontaminasi oleh gas/uap fumigan. c. Sarung Tangan (Glove) Sarung tangan yang biasa dipakai adalah yang terbuat dari karet atau PVC yang tebal dan panjangnya sebatas siku. Sarung tangan ini harus dites secara berkala dengan air. Jika ada bagian yang bocor atau berlubang harus ditambal atau diganti dengan yang baru. d. Sepatu Boot. Dalam melakukan fumigasi harus mengenakan sepatu boot khusus yang terbuat dari karet. Kaus kaki harus dicuci secara berkala untuk menghilangkan kontaminan yang mungkin terjadi. e. Tutup Kepala. Topi ini terbuat dari plastik atau kain yang dibuat seperti topi pet. Topi ini harus dicuci secara berkala. f. Masker Gas ( Respirator ) Masker gas yang menutupi separuh muka yang dilengkapi dengan dua bulatan penyaring gas (Kaanister) biasa dipakai dalam pekerjaan fumigasi. Setiap selesai melakukan fumigasi , penyaring udara harus dicuci dengan sabun, kemudian disimpan dalam kantong plastik untuk menjaga jangan sampai terkontaminasi oleh gas beracun, harus menggunakan masker gas yang dilengkapi dengan tabung gas oksigen. g. Kaca mata Pelindung (Goggle) Kaca mata pelindung ini terbuat dari plastik yang dipakai untuk melindungi mata dari percikan cairan atau uap fumigan. C. Prosedur Fumigasiyang Fumigasi adalah suatu cara pemberantasan serangga dan jamur dengan menggunakan fumigan. Cara ini tidak dapat dipakai sebagai tindakan pengawetan atau pencegahan, karena setelah gas hilang (fumigasi selesai) bahan ini tidak meninggalkan residu yang dapat mencegah serangga dan jamur menyerang bahan pustaka. Fumigasi lebih bersifat eradikatif (membunuh) karena fumigan mampu menembus ke dalam sela sela kertas pada buku sehingga dapat membunuh serangga dan jamuryang ada pada permukaan maupun di dalam sela sela kertas. Fumigasi dapat membunuh serangga melalui sistem pernafasan dan dapat mematikan jamur karena sifat bahan tersebut yang dapat meracuni pertumbuhannya. 1. Fumigasi dengan Carbon Disulfide dan Carbon Tetra Chloride Fumigasi dengan bahan bahan ini dapat dilakukan dengan CS saja , CCL saja atau campuran kedua bahan tersebut dengan perbandingan 1 : 1, Ruangan fumigasi dengan luas lantai 4m2 dan tingginya 2 m ( 2x2x2 m3 ) akan membutuhkan 1 liter CS atau 1 liter CCL. Bila kedua bahan ini ingin digunakan bersama , volumenya adalah 500 ml CS dan 500 ml CCL. Bila ruangan yang akan digunakan lebih besar atau lebih kecil dari ukuran standar di atas, maka kebutuhan bahan CS dan CCL disesuaikan dengan mengambil perbandingan ruangan tersebut. Langkah langkah Fumigasi. a. Periksa kedua alat peniup dalam ruangan fumigasi apakah dapat beroperasi atau tidak b. Periksa karet seal pada pintu ruang fumigasi . Pastikan jika pintu tertutup tertutup , gas tidak akan dapat keluar c. Siapkan wadah ceper yang terbuat dari plastik atau piring kaca d. Masukkan dan atur bahan pustaka yang akan difumigasi. Bahan pustaka yang berupa buku dan lembaran kertas harus ditata sedemikian rupa agar fumigan dapat masuk ke dalam sela sela kertas. Buku yang bersampul tebal diletakkan berdiri di atas rak dengan posisi seperti huruf V direbahkan atau dibalik. Buku yang tidak dapat berdiri karena sampulnya terlalu lemas dapat digantung pada tali plastik dengan posisi punggung berada di atas. e. Setelah semua tahap di atas siap, kenakan alat pelindung seperti pakaian kerja, masker gas, tutup kepala, kaca mata pelindung dan sarung tangan. f. Salah seorang siap menuangkan bahan CS dan CCL ke dalam wadah ceper yang telah disediakan. Disarankan agar selama menuangkan bahan ini , pelaksana menahan nafas, kemudian setelah selesai cepat cepat keluar dari ruang fumigasi dan pergi menjauh dari ruangan tersebut. Orang lain akan menutup pintu ruang fumigasi dengan hati hati dan skerup pada pintu ruangan dikencangkan agar gas dari dalam tidak dapat keluar Fumigasi dengan CS dan CCL membutuhkan waktu satu minggu dengan S dan CCL. Dan memasukkan udara bersih , hari ke tujuh untuk mengeluarkan pustaka dari ruang fumigasi. Fumigasi dengan CS dan CCL mempunyai beberapa keuntungan seperti berikut : a. Dapat mematikan serangga dan larvanya sampai ke bagian dalam buku b. Dapat dilakukan oleh personil dengan kemampuan yang terbatas c. Kecelakaan karena keracunan gas relatif kecil karena penguapan yang tidak terlalu cepat. d. Tidak meninggalkan residu setelah pelaksanaan Fumigasi Kekurangannya : Kurang efektif jika digunakan untuk fumigasi seluruh ruang perpustakaan atau ruang deposit karena daya rembesnya yang kurang. Fumigasi dengan bahan ini akan efektif bila dilakukan dalam ruang fumigasi atau lemari fumigasi. 2. Fumigasi dengan Formaldehyde Prosedur fumigasi dengan bahan ini hampir sama dengan fumigasi bahan CS dan CCL. Demikian juga dengan syarat syarat kebutuhan bahan dan peralatan keselamatan kerjanya. Keuntungannya : Selain dapat membunuh serangga dapat juga membunuh jamur Kekurangannya : Kurang efektif bila digunakan untuk ruang perpustakaan atau ruang deposit karena daya rembesnya lemah, penjepit kertas paku dan partikel besi yang ada dalam bahan pustaka akan berkarat. 3. Fumigasi dengan Methyl Bromide. Karena kecelakaan dalam pelaksanaan fumigasi dengan methyl bromide ini cukup tinggi , orang yang melaksanakan fumigasi haruslah orang orang yang terlatih . Agar pelaksanaan fumigasi ini berjalan lancar , aman dan efektif, diperlukan persiapan langkah langkah sbb : Persiapan : a. Siapkan peralatan ; plastik sheet, lem lack band, selang, pipa dan timbangan. b. Siapkan juga alat keselamatan kerja seperti masker kanister khusus untuk methyl bromide, alat mengukur kebocoran gas (lampu halide), baju kerja, kaca mata pelindung, sarung tangan, dan topi. c. Periksa ruang deposit atau ruangan perpustakaan yang akan difumigasi apakah dekat tempat kerja atau tempat tinggal, jika ya, ruangan harus ditutup rapat dengan bantuan lembar plastik (plastik sheet), lem plastik dan lack band agar gas tidak dapat keluar. Pelaksanaan Fumigasi. a. Tentukan banyaknya Methyl Bromide yang disesuaikan dengan dosis yang diperlukan , yaitu 16 gram/m3 ruangan b. Pasang pipa (selang) induk untuk mengalirkan gas methyl bromide dari tabung ke dalam ruangan. c. Siapkan pipa sebanyak mungkin agar gas mudah tersebar ke seluruh ruangan, hubungkan pipa tersebut dengan pipa induk. d. Masukkan gas melalui pipa yang telah dipersiapkan. e. Pada waktu memasukkan gas tidaak boleh ada yang mendekat, kecuali operator yang memakai masker kanister dan alat pelindung lainnya. f. Untuk mencegah adanya bahaya kebocoran , pada tahap pertama mengeluarkan gas hanya 10% dari dosis yang diperlukan , kemudian periksa kemungkinan adanya kebocoran dengan lampu halide, jika ada yang bocor tutup dengan lack band. g. Setelah benar benar tidak ada yang bocor , lepaskan seluruh bahan yang diperlukan. h. Untuk mengotrol banyaknya gas yang telah dimasukkan , tabung methylbromide ditimbang sebelum dan sesudah dikeluarkan. i. Tutup ruang perpustakaan yang sedang difumigasi dan pasang tanda bahaya yang mudah dilihat. j. Jangka waktu pelaksanaan fumigasi adalah 2 x 24 jam. Tahap Eradikasi a. Bukalah semua pintu ruangan dan bongkar lembar plastik (plastik sheet) dan lepaskan lack band yang dipakai untuk menutup bagian bagian yang berlubang . Pada waktu membuka pintu , membongkar lembar plastik (plastik sheet) dan lack band, operator harus tetap memakai masker kanister dan alat pelindung lainnya. Periksa konsentrasi gas dengan lampu halide , jika konsentrasi gas masih cukup tinggi gunakan kipas angin untuk membantu mengeluarkan gas, biarkan selama 1-2 jam, kemudian periksa kembali dengan lampu halide.. Jika konsentrasinya sudah berada di bawah ambang bahaya, fumigasi dianggap sudah selesai. Memeriksa Konsentrasi Gas Methyl Bromide. Mengetahui konsentrasi gas mesthyl bromide di udara sangat penting. Selain untuk mengetahui adanya kebocoran , juga untuk mengetahui adanya konsentrasi gas yang membahayakan selama masa eradikasi dan setelah fumigasi. Untuk mengetahui konsentrasi gas methyl bromide secara kasar dapat dilihat perubahan warna nyala dari lampu halide seperti yang tertera pada tabel dibawah ini. Konsentrasi Gas Perubahan warna nyala api Methyl Bromide lampu halide 0 Tetap 10 Bagian tepi mulai berwarna kehijauan 20 Bagian tepi berwarna hijau muda 30 Keseluruhan berwarna hijau muda 100 Hijau 200 Hijau tua, bagian tepi biru 500 Biru kehijau-hijauan 1000 Biru Tua. Keuntungan Fumigasi dengan Methyl Bromide : Dapat digunakan untuk fumigasi ruangan perpustakaan, tanpa mengganggu susunan buku, sehingga ruangan koleksi striil dari gangguan serangga dan jamur. Kekurangannya : Fumigasi dengan bahan ini tidak dapat dilakukan oleh operator dengan kemampuan yang terbatas dan peralatan harus lengkap karena kalau tidak kemungkinan kecelakaan akan dapat terjadi. 4. Fumigasi dengan Phosphine PH Phosphine merupakan fumigan yang cukup efektif untuk membunuh serangga dan binatang pengerat (tikus). Phosphine yang diformulasikan dalam bentuk tablet dan tepung mengandung aluminium phosphine. Senyawa ini akan bereaksi dengan uap air dalam udara membentuk gas phosphine (PH) beracun. Karena gas phosphine ini terbentuk dari hasil reaksi antara uap air dan aluminium phosphine, fumigan ini sangat cocok digunakan di daerah tropis yang banyak mengandung uap air. Makin tinggi kelembaban udara pada saat pelaksanaan fumigasi, makin cepat pelaksanaan fumigasi. Langkah langkah Fumigasi. Persiapan Jika yang difumigasi adalah ruang perpustakaan, persiapan adalah sebagai berikut : 1. Persiapan peralatan yang akan digunakan seperti lembar plastik ( plastic sheet), lem plastik, nampan plastik atau piring kaca sebagai wadah untuk menampung fumigant, dan lack band (isolasi) 2. Persiapkan juga peralatan keselamatan kerja seperti masker kanister khusus untuk phosphine, sarung tangan , kaca mata pelindung dan baju kerja (baju pelindung) 3. Siapkan bahan fumigan secukupnya sesuai dengan volume ruangan yang akan difumigasi 4. Periksa ruangan yang akan difumigasi apakah memenuhi syarat atau belum. Jika ada yang bocor , tutup dengan lack band. Pelaksanaan Fumigasi a. Semprot lantai di sekitar rak buku dan pojok ruangan dengan maksud untuk membunuh serangga yang kemungkinan tidak terkena gas beracun. b. Tutup rak rak buku dengan lembar plastik (plastic sheet) sampai minimum 1 meter menutup lantai agar dapat memperkecil kebocoran gas, beri lack band pada ujung lembar plastik. (plastic sheet). c. Masukkan fumigan sesuai dengan berapa yang diperlukan , letakkan di beberapa tempat di bawah rak buku agar gas phosphine dapat menyebar ke semua bagian. Tablet diletakkan tidak bertumpukan untuk mempermudah terbentuknya gas dan mencegah bahaya kebakaran d. Proses aerasi dibiarkan selama 2 x 24 jam agar gas phospine dapat menyusup ke dalam sela sela kertas e. Setelah selesai , pintu dan jendela ruangan dibuka lebar lebar lembar plastik (plastic sheet) dibongkar untuk menghilangkan gas yang masih tertinggal. Selama membuka lembar plastik (plastic sheet), operator harus memakai masker kanister , sarung tangan , dan pakaian pelindung. Biarkan selama 1 jam sambil dibantu dengan kipas angin sampai gas keluar semua dan aman bagi manusia. f. Sisa sisa Fumigan yang berupa tablet atau tepung dapat dibuang ke tempat yang terbuka atau dimasukkan ke dalam ember yang berisi air hangat dan detergent ( 5 sendok detergent dalam 10 liter air ). Bila gelembung gas telah lenyap , air dalam ember tersebut dibuang. Jika fumigasi dilakukan dalam ruang atau lemari fumigasi, langkah langkanya adalah sbb : a. Periksa ruang atau lemari fumigasi apakah ada yang bocor atau tidak. Jika ada tempat tempat yang dianggap bocor tutup dengan lack band b. Persiapkan alat alat keselamatan kerja dan bahan bahan seperti tsb di atas c. Susun buku sebaik baiknya sehingga memungkinkan gas dapat masuk ke sela sela kertas d. Masukkan fumigan ke dalam ruangan atau lemari fumigasi sebanyak yang dibutuhkan ( 23 gram/m3 udara ) e. Tutup pintu ruang/lemari fumigasi dengan hati hati dan beri lack band pada bagian bagian yang berlubang agar ruangan menjadi kedap udara. f. Biarkan proses aerasi selama 2 x 24 jam g. Setelah selesai , alat peniup (blower) untuk mengeluarkan gas beracun dan unruk memasukkan udara bersih dihidupkan atau membuka pintu lebar lebar dan memasang kipas angin untuk mengeluarkan gas beracun. Dengan selesainya pekerjaan ini , fumigasi dianggap selesai dan bahan pustaka dapat dikembalikan ke ruang perpustakaan. Mengukur Kadar Phospine di Udara. Secara sederhana adanya gas phospine dapat diketahui dengan indera penciuman. Bila tercium bau seperti karbit atau bawang putih merupakan petunjuk adanya gas phospine di udara. Bau yang kuat menunjukkan adanya konsentrasi yang berbahaya, namun tidak adanya bau belum tentu menunjukkan tidak adanya gas. Alat yang dipakai untuk mengukur konsentrasi phospine adalah drager tube atau multi gas detector yang berupa pompa tangan kecil yang diujungnya diberi tabung gelas untuk mengukur konsentrasi phospine. Tabung ini diisi dengan silica gel yang dicampur dengan bahan kimia. Bila terjadi kontak dengan bahan phospine akan berubah warna dari kuning cerah menjadi hitam kecoklatan. Ada dua tipe detektor , yaitu sebagai berikut, a. 0,1/a digunakan untuk mengukur konsentrasi disekitar nilai ambang bahaya (TLVO) dengan skala bacaannya antara 0,1 – 0,4 ppm, Detektor ini digunakan sebagai alat keselamatan kerja b. 50/a dengan skala bacaan antara 50 – 1000 ppm digunakan untuk mengetahui konsentrasi phospine dalam rangka menilai efektivitas fumigan 5. Fumigasi dengan Thymol Fumigasi dengan bahan ini pada umumnya dilakukan dalam ruang atau lemari fumigasi yang dilengkapi dengan alat pemanas. Bahan ini akan menguap jika dipanaskan dengan bola lampu pijar 40 watt Langkah langkah Pelaksanaan Persiapan : a. Susun buku yang akan difumigasi seperti menyusun buku pada fumigasi dengan CS dan CCL b. Periksa apakah lampu pemanas masih hidup atau tidak c. Periksa kemungkinan kebocoran yang terjadi pada lemari , kalau ada kebocoran tutup dengan lack band Pelaksanaan : a. Masukkan Thymol ke dalam mangkok (petri disk) yang telah disediakan dan letakkan di atas pemanas. Pada saat ini operator diwajibkan memakai sarung tangan karet untuk menjaga agar thymol crystal tidak tersentuh tangan. b. Tutup pintu lemari dengan hati hati , pada bagian yang berlubang ditutup dengan lack band c. Nyalakan lampu pijar untuk memanaskan thymol crystal tersebut d. Lakukan aerasi selama jam kerja 2 hari berturut turut atau satu hari penuh pada hari minggu (24 jam). Setelah selesai , matikan lampu pemanas dan biarkan selama 2-3 jam sampai gas thymol hilang dan tidak berbau. e. Buka lemari fumigasi untuk mengambil bahan pustaka dan dikembalikan ke ruang perpustakaan Kelebihan Fumigasi dengan Thymol a. Fumigan ini berbentuk padat sehingga tidak begitu berbahaya jika bekerja dengan bahan ini b. Pelaksanaan Fumigasi relatif singkat dan dapat dilakukan dalam jam kerja c. Fumigasi dengan bahan ini selain untuk membunuh jamur dapat juga untuk membunuh serangga.

BIBLIOGRAFI

E.J. Bond, Manual of Fumigation for insect Control, Food and Agricultural Organization of United Nation , Rome, 1984 Final Report, Structural Pest I, Termite, National Park Service, Arlington, VA 1984 Keith O, Story, Approaches to Pest Management in museum, vation Analytical Laboratory, Amithsonian Institution, Wahsington, 1985 O.P. Agrawal , Termite-Amajor Probulem in museum, International Centre for Conservation, Rome, 1979 O.P. Agrawal and Shashi Dawan, Control of Biodeteriation in museum, NRLC, Lucknow (India), 1985 P. Hadlington B.Sc Agrand J Gerozises Dip.Ed, Urban Pest Control in Australia V.J. Herman, Pedoman Konservasi Koleksi Museum, Proyek Peningkatan dan Pengembangan Museum Jakarta, 1977/1978 Pedoman Teknis Perawatan Kualitas, Badan Urusan Logistik, Jakarta, 1987

 

Online Public Acces Catalog